I must have been crazy. Apa-apaan ini
Raditya??? Kalau sampai Naomi dan Talita tahu bakalan mampus aku dibantai
mereka. Yeah call me stupid saat mau-mau saja bertemu dengan Nadya. Bukan
bertemu sih tapi Nadya yang datang ke kantorku setelah aku mengacuhkan puluhan
SMS dan mengabaikan teleponnya. And I
hate to say this, but I still miss
and love her to the moon and back. Walaupun dia sudah sangat meremukkan
hatiku saat memutuskan menikah dengan laki-laki lain tiga bulan setelah memutuskanku
secara sepihak. Alasannya karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan jarang
menghujani dia dengan SMS-SMS atau BBM yang nggak penting.
Maksudku, apa penting setiap saat aku
menanyakan kabarnya padahal baru semalam sebelumnya kami bertemu. Apa penting
setiap saat harus bilang aku cinta kamu padahal sudah jelas-jelas aku bakalan
menikahinya. Dan aku sibuk kerja itu demi siapa kalau bukan demi masa depan aku
dan dia. But yeah, that’s not enough for
her and he dumped me for that stupid reason. That’s why I can’t understand about woman’s thought. Nggak semua
perempuan sih, karena Naomi dan Talita dua sahabatku sejak kecil bukan tipe
seperti Nadya yang manja dan menyebalkan tapi anehnya membuatku jatuh cinta
setengah mati. Dan sekalipun dia sudah menghancurkan hatiku, aku masih saja
begitu mencintainya.
“Sori Dit kalau aku tiba-tiba saja
muncul disini. Aku nggak punya jalan lain. Aku nyaris frustasi karena kamu
nggak pernah balas SMS aku.” Kata Nadya dengan nada manjanya saat kami tiba di
coffee shop yang terletak di lobi gedung kantorku. Oh yah satu lagi, Nadya
bukan cuma manja dan menyebalkan tapi dramaqueen juga. Nyaris frustasi katanya
barusan, yang memilih buat kawin sama orang lain siapa?
“To the point saja Nad. Kerjaanku
banyak dan aku juga nggak mau sampai kenalanku melihat aku ngobrol berduaan
dengan mantan pacarku yang sudah jadi istri orang.” Wow! Itu beneran aku?
Ternyata aku masih bisa juga menahan diri untuk nggak melompati meja dan
memeluk Nadya dengan penuh rindu.
“I
miss you Dit.” Kata Nadya nyaris memekik. Oke mungkin dia memang benar soal
dirinya yang nyaris frustasi. Dan aku juga menyadari kalau Nadya sekarang ini
nampak rapuh. Call me bastard, tapi aku harus akui kalau aku senang melihatnya
seperti ini. Duduk didepanku dengan penyesalan penuh dan mengakui kalau dia
merindukanku juga.
“Aku tahu aku nggak pantas bilang itu
ke kamu. I was so selfish and so spoiled
when I decided to broke up with you. Emosi sesaat yang akhirnya menyerang
balik diriku.”
“Nggak ada gunanya lagi Nadya. Kamu
sudah menikah, punya suami.”
“But
I’m not happy. He’s not better than you. Aku sudah seminggu pulang ke
apartemenku lagi.”
Hell
no!! Baru tiga bulan dan Nadya sudah pisah dengan suaminya? Ini bukan
pernikahan selebriti kan? Aku yakin 100% suami Nadya bukan dari kalangan
selebriti. So why Nadya? Why??
“Dia nggak pernah mau dengerin aku.”
Seolah dapat membaca pikiranku, Nadya mengutarakan penyebab dia pisah dengan
suaminya. Yah tentu saja perempuan manja seperti Nadya selalu ingin didengar.
Nggak terhitung deh berapa kali dia merajuk sewaktu kami pacaran dulu cuma
gara-gara aku nggak mau nurut sama kemauannya.
“Tetap saja nggak menjadikan alasan
untuk kamu seenaknya datang menemui aku.” Huh sok jual mahal padahal tadi saat
Nadya muncul didepan pintu ruanganku, aku nyaris saja menangis terharu. Dan yah
untuk kali ini hati berhasil mengalahkan logikaku. Aku melirik ke pintu masuk
coffee shop dan mendapati Dera rekan kerjaku tengah berjalan kearahku.
“Lo disini? Lupa yah ada meeting sama
calon klien. I’ll give you five minutes.
Gue tunggu di parkiran” Dera langsung nyerocos dan tanpa menunggu jawabanku dia
langsung melengos pergi. Aku melirik Nadya yang ekspresinya kentara sekali
nggak suka sama cara Dera barusan atau sama Dera-nya mungkin.
“Dia siapa? Aku nggak suka cara dia
ngomong ke kamu.” Tukas Nadya. See, dia bicara seolah-olah aku ini masih
miliknya.
“Sorry Nad, but I have to go.” Aku beranjak bersiap pergi. Kemunculan Dera
barusan membuatku kesal sekaligus lega. Kesal karena dia menginterupsi waktuku
dengan Nadya tapi sekaligus lega karena aku jadi punya alasan untuk
meninggalkan Nadya.
“Oke. Aku tahu itu cuma alasan kamu aja
Dit, but I’ll be back. Aku akan terus
kembali sampai kamu mau menerima maafku. Aku tahu jauh dilubuk hati, kamu masih
mencintai aku. Cos’ I feel the same too.”
Kata Nadya lagi sebelum beranjak pergi.
Aku
memandangi punggungnya yang perlahan menjauh sampai menghilang dari hadapanku.
Dan desiran aneh merayapi dadaku. Dan seandainya saja saat ini aku dan Dera
tidak harus menemui calon klien, aku mungkin sudah berlari mengejar Nadya dan
menenggelamkannya kedalam pelukanku.
***
Talita melambaikan tangannya saat aku
memasuki Anomali Coffee. Ini memang tempat nongkrong favorit kami bertiga
semenjak kami mulai sibuk dengan kerjaan masing-masing dan jadi penggila kopi.
Aku langsung mengecup pipi Talita, hal yang sama juga baru mau aku lakukan ke
Naomi tapi nggak jadi karena pekikan pelannya.
“Sialan!! Mau lo apa siiiiiiih??” Naomi
melotot ke layar Galaxy Note 3-nya membuatku berjengit kaget dan menoleh ke
Talita meminta penjelasan.
“Flappy bird dan PMS.” Jelas Talita
singkat sambil memutar kedua bola matanya. Dan aku hanya bisa mengangguk
maklum. Yah kalau ada game yang harus dihindari kaum wanita saat lagi PMS,
flappy bird ada diurutan pertama.
“Gimana kabar lo? Masih galau juga?”
Naomi sepertinya sudah menyerah dengan si flappy karena dia sudah meletakkan
note 3-nya. Aku belum langsung menjawab karena waiters yang datang meletakkan
pesanan kami, black pearl espresso yang sudah dipesankan Talita untukku dan
black forest latte untuknya dan Naomi plus klub sandwich dan kentang goreng.
“That’s why I called you. Nadya tadi ke
kantor gue.” Ucapan gue barusan praktis membuat Naomi dan Talita menganga.
“Katanya dia sudah pisah sama suaminya.” Tambahku lagi. Naomi bahkan sudah
melotot.
“Sudah berapa lama?” Tanya Talita lagi.
“Seminggu katanya.”
“Whuaaattttt????” aku dan Talita
berjengit kaget mendengar pekikan Naomi. Bahkan pengunjung kafe yang lain juga
ikutan menoleh. “Dia itu mau menyaingi Ayu Ting Ting?? Baru tiga bulan kan dia
nikah?” kata Naomi lagi tapi dengan volume yang sudah diturunkan.
“Alasannya apa?” Tanya Talita datar.
Dua sahabatku ini pribadinya memang berbeda. Naomi orang yang ceria,
blak-blakan, ramah, lebih mudah mengekspresikan perasaannya sementara Talita
kebalikannya. Lebih tertutup dan terkesan jutek karena ekspresinya yang selalu
datar.
“Suaminya nggak mau dengerin dia
katanya.”
“Hah! Khas Nadya banget. Sok tuan
putri, maunya didengerin terus apa maunya. Sori yah Dit kalau lo harus
tersinggung, tapi mantan pacar lo yang sangat lo cintai itu so very childish.
Sok manja. Sebenarnya gue nggak suka sama dia tapi karena gue sayang sama lo
gue diem aja. Kenapa sih lo bisa cinta banget sama dia?” kata Naomi blak-blakan
yang membuatku rada bangke juga.
Dari kecil aku selalu dikelilingi
dengan perempuan-perempuan yang mandiri. Mami aku yang sudah jadi single parent
sejak aku umur 10 tahun, begitu pula dengan Naomi dan Talita yang jauh sekali
dari kesan manja. Call me freak, tapi
aku selalu mendambakan gadis yang manja. Secara nggak ada yang bisa gue
manjain. Bahkan Talita yang yatim piatu sekalipun. Munculnya Nadya membuatku
nggak bisa berpaling, karena akhirnya aku bisa memanjakan seorang perempuan.
“Hey lupa yah? Diantara semua
mantan-mantan gue, cuma Nadya yang bisa menerima persahabatan gue dengan lo
berdua. Hitung deh berapa kali gue putus cinta, alasannya selalu sama,
mantan-mantan gue cemburu dengan lo berdua.”
Dan memang betul. Cuma Nadya yang nggak
pernah keberatan dengan jalinan persahabatan antara aku, Naomi dan Talita. Dan
Nadya satu-satunya yang nggak pernah menyuruh aku memilih antara dia atau Naomi
dan Talita.
“Belum keluar aja aslinya Raditya
sayang.” Kata Naomi lagi. “Lo pacaran kan belum setahun. Kalau sudah setahun
pasti dia bakalan maksa lo untuk memilih. Mantan-mantan lo yang nggak manja aja
nggak tahan liat kedekatan lo sama gue dan Talita apalagi yang tipe manja kayak
Nadya. Dan kenyataan kalau dia nggak pernah berusaha berbaur dengan gue dan
Talita semakin menguatkan teori gue.”
“Dia masih istri orang Dit, lo harus
ingat itu. Kita sih akan selalu support lo, tapi lo harus kuat juga. Sekarang
ini hati lo masih labil aja dan lo belum bisa mengenyahkan Nadya dari pikiran
lo jadi ada baiknya lo jangan ketemu Nadya dulu.” Kata Talita.
“Lagian juga jadi cowok kok cengeng
banget. Move on dong maaaaaaaaan. Gue aja waktu putus sama Arjuna yang gue rasa
sudah jadi belahan jiwa gue nggak segitu desperatenya. 1 setengah tahun lho gue
pacaran sama dia sebelum dia malah dijodohkan.”
Naomi kembali menggunakan senjata
pamungkasnya. Yah aku memang terlalu cengeng jadi cowok. Saat harus berpisah
dengan Arjuna aku tahu pasti bagaimana hancurnya Naomi, tapi dia nggak pernah
menangis. Menurutnya airmatanya terlalu berharga untuk menangisi Arjuna.
Iphone milikku yang diletakkan diatas
meja bergetar. Aku melirik layarnya dan menemukan nama Nadya. Naomi yang
melihat ekspresiku langsung meraih hp-ku dan me-reject panggilan Nadya. Tapi
bukan Nadya namanya kalau berhenti disitu. Puluhan panggilan menyusul kemudian
membuat Naomi menggeram kesal sebelum mematikan hp-ku.
“So
how’s your day?” Tanya Talita mengalihkan pembicaraan.
“Lumayanlah. Gue sama Dera berhasil
dapat klien baru yang mau menggunakan jasa perusahaan kami untuk design rumah
barunya. Pria muda yang mapan, sepertinya rumah itu kejutan untuk istrinya.”
Setelah pertemuan dengan Nadya tadi, aku dan Dera rekan kerjaku yang juteknya
juga sama kayak Talita pergi menemui calon klien kami yang kemudian berubah
statusnya jadi klien setelah dia setuju untuk menggunakan jasa perusahaan tempatku
mencari nafkah.
“Dera? Rekan kerja lo yang cute dan charming itu? Is there
something wrong with you? Cewek sekece itu dianggurin aja? Apalagi lo
berdua kan sering kerja bareng.” Naomi memutar kedua bola matanya.
“Ngomong apa sih lo?” aku menoyor dahi
Naomi pelan yang dibalasnya dengan mengeplak tanganku. “She’s not my type at all.” Lanjutku lagi yang membuat Naomi nggak
tahan untuk nggak mencibir.
“So
what kind of girl can make you fall so deeply in love Raditya Mahya? Yang
tipe-tipe manja nggak jelas kayak Nadya? Trust
me, it won’t work. Lagian heran gue sama obsesi lo untuk manjain cewek itu?
Kesannya lo jadi stupid gitu. Raditya Mahya, arsitektur mapan yang gantengnya
11-12 dengan Kim Woo Bin tapi jadi bego setelah ketemu cewek manja yang bernama
Nadya.” Ya ampun sahabatku yang satu ini, cantik-cantik tapi mulutnya tajam
juga. Heran si Tristan bisa betah pacaran sama Naomi. Meskipun aku agak
tersanjung juga karena dia rela menyandingkan ketampananku dengan actor Korea
tercintanya.
“You’re
wrong. Gantengan gue kemana-mana kali’ dibanding Kim siapa itu.” Aku mencibir
kearah Naomi lalu menoleh ke Talita. “Kok diem aja? Tolongin gue dong.” Kataku setengah
memelas.
“Sorry
darl, tapi untuk yang satu ini gue harus setuju dengan Naomi. And she’s right, why don’t you try to move
on and start with this Dera?”
What
the hell with all people around me yang seakan-akan nggak berhenti mencoba
membuatku melirik Dera. Bukan cuma pesona Nadya yang terlalu kuat yang
membuatku sulit berpaling, tapi fakta kalau Dera nggak menyukai aku juga
membuatku harus menyerah sebelum mencoba. Bukannya aku nggak pernah melirik
Dera. Seperti kata Naomi tadi, Dera itu cute
and charming. Nggak secantik Naomi atau Talita juga tapi entah kenapa
memang ada sesuatu yang menarik darinya. Sayangnya dia selalu jutek ke aku. Artinya
dia nggak suka kan sama aku? Dan itu membuatku sadar juga kalau Dera jadi
perempuan ketiga yang kebal dengan pesonaku setelah Naomi dan Talita.
“Forget
about Dera. She never likes me. Dia itu cewek terjutek yang pernah gue
kenal. Dan kesannya tuh dia terpaksa banget setiap harus kerja bareng gue.” Jelasku
yang memadamkan semangat diwajah Naomi tapi menimbulkan cahaya diwajah Talita. Crap, bahasa apa yang baru kupake
barusan.
“Lo nggak pernah berpikir kalau dia
sebenarnya suka sama lo? Lo lupa gimana sikap gue ke Daffa dulu?” ucapan Talita
barusan membuat ingatanku melayang ke kejadian beberapa bulan lalu sebelum aku
didepak Nadya. Yah siapa yang nyangka kalau Talita yang sedingin ratu es
setelah ditinggal mati mas Rendra mantan pacarnya karena kecelakaan akhirnya
bisa luluh pada Daffa. Our handsome classmate
when we were in High School yang sekarang tengah mengecap panggung
ketenarannya di dunia entertainment. Bisa ternyata Daffa yang pecicilan meluluhkan Talita dan yang nggak pernah aku dan Naomi sangka, dibalik segala
kejutekan yang dia tebarkan ke Daffa ternyata diam-diam juga dia sudah jatuh hati
dengan Daffa.
“Nggak mungkinlah. Begini yah, gue sama
Dera itu interaksinya terlalu sering. Masa’ sih kalau emang dia suka sama gue
dia nggak bisa berubah ramah sedikitpun. Jangankan ramah, dekat-dekat ama gue aja
dia nggak betah.”
“Nyangkal aja terus Dit, nanti juga mata
lo bakal kebuka dengan sendirinya.” Kata Talita sambil mengangkat kedua
bahunya.
“Oke lupakan soal Nadya. Dan lupakan
sejenak soal Raditya Mahya yang belum bisa move on. Gue punya berita bahagia
sebenarnya.” Kata Naomi dan aku melihat rona bahagia yang muncul diwajahnya. “Tarrrrraaaaaaaa…..Tristan
already purpose me. I’m getting married
saudara-saudaraaaaaa.” Naomi mengacungkan jari manisnya yang kini sudah berhias
cincin dengan batu berlian. Bahkan aku dan Talita pun ikut larut dalam
kebahagiaan yang dia tularkan hingga mengacuhkan tatapan aneh pengunjung kafe
lainnya akibat pekikan Naomi tadi. For
God’s sake, kemana aja pikiranku sejak tadi sampai nggak menyadari kalau
ada yang berkilau dijari manis Naomi.
“Congratulation
my noisy Naomi. I’m so happy for you.”
Bahkan Talita sudah berkaca-kaca saat mengucapkan kalimat barusan. And I do understand, Naomi getting married soon dan artinya aku dan
Talita nggak bisa lagi memonopoli dirinya 100%. Shit, I even already miss her.
“Berani juga yah Tristan ngambil resiko
hidup dengan cewek paling berisik.” Kataku mencoba bercanda tapi malah
terdengar miris. Ternyata sebesar ini rasa sayangku sama mereka berdua.
“Jangan sedih gitu dong, gue kan mau
merit bukannya pindah ke Uranus. And keep
my words now that my married wouldn’t be obstacle for our friendship FOREVER!”
Naomi menekan kata forever.
“Gue percaya Nom.” Kataku lagi dengan
senyum tulus. “Lo kapan nyusul?” kataku pada Talita.
“Nanti yah kalau lo sudah bisa move on.
Biar gue bisa merit dengan tenang.” Sahut Talita yang membuat Naomi ngakak.
“Sialan lo!” umpatku tapi ikut ketawa
juga.
Dan yang mereka berdua lakukan
selanjutnya berhasil membuatku melupakan Nadya sesaat. Saat mereka berdua mulai
menggali kembali kenangan persahabatan kami yang sudah berjalan saat kami
sama-sama masih pake popok. Tapi itu cuma sesaat, karena dua jam kemudian saat
aku pulang dan menemukan Nadya tengah duduk melantai didepan pintu apartemenku
dengan menelungkupkan kepalanya, I’ve get
lost again. Aku melupakan segala usahaku yang berusaha keras mengusir
bayangannya dari kepalaku karena yang kulakukan selanjutnya adalah melangkah
mendekati Nadya yang belum sadar akan kehadiranku, berjongkok disampingnya dan
menyentuh kepalanya lembut. Dan saat Nadya mengangkat kepalanya kemudian
tersenyum lemah dan berbisik “Finally you’re
home.” There’s nothing I can do but
hug her deeply into my arms.