Minggu, 16 Februari 2014

Mantan Terindah



           “Luna?”
         Luna menoleh kearah suara yang memanggilnya saat dia tengah asyik mencari novel-novel romance untuk melengkapi koleksinya. Matanya membulat saat mendapati sosok Bara, pria dari masa lalunya tengah memandanginya sambil tersenyum. Kedua tangannya dimasukkan dalam saku celana jeans.
         “Bara?” lirih Luna nyaris tidak terdengar.
         “Apa kabar?”
         Pertanyaan singkat dari Bara yang membuat Luna melupakan niat awalnya tadi untuk mencari novel romance terbaru. Dia malah berakhir di food court bersama Bara. Entah kenapa dia langsung mengangguk begitu Bara menawarkan untuk makan siang bersama, mengingat akhir hubungan mereka yang tidak mengenakkan.
         “Kamu banyak berubah, makin cantik.” Kata Bara membuka obrolan setelah mereka memesan makan siang. Luna hanya mengangguk singkat.
         ‘Yah tentu saja. I’m brighter after we broke up.’ batin Luna.
         “Sudah lama yah sejak pertemuan terakhir kita. Kamu kerja dimana sekarang?” tanya Bara lagi.
         “Nggak kerja kok. Cuma buka butik kecil-kecilan.” Jawab Luna sambil menyesap orange juice-nya.
         “Lho, bukannya kamu kuliah akuntansi? Kok jadi malah buka butik?”
         Luna mengangkat kedua bahunya. “Sempat kerja di Bank sih setahun but I decided to quite. Ternyata passion aku yah di bidang fashion.”
         “Aku nggak pernah tahu kalau kamu tertarik soal fashion.”
         ‘Hmm pastinya.’ Batin Luna lagi. Dia melirik Alexander Christie dipergelangan tangannya.
         I have to go now. Ada janji dengan orang majalah. Thanks for the lunch.” Luna meraih tote bag-nya bersiap untuk pergi.
         “Bisa kita ketemu lagi? Aku masih lima hari lagi disini.” Bara menahan lengan Luna yang dilepaskan perlahan oleh Luna.
         “Oke.” Satu jawaban singkat, lalu Luna pun berlalu.
         Bara memandangi punggung Luna yang mulai menjauh. Enam tahun berlalu, secara fisik Luna banyak berubah. Tubuhnya yang dulu kurus sekarang mulai berisi, dan tidak ada lagi bekas jerawat yang menghiasi wajahnya. Rambut bob pendek sekarang berganti dengan curly hair yang menjuntai indah sampai dibahu. Luna jauh lebih cantik. Tapi Bara tidak lagi merasakan keramahan seorang Luna Inaya yang membuatnya jatuh cinta tujuh tahun yang lalu. Senyumannya pun terkesan dipaksakan dan Bara tahu Luna tidak nyaman saat bersama dengannya. Diapun menyadari kalau semua itu karena kesalahannya juga. Bagaimana pun, Bara ingin memperbaiki semuanya lagi. Dia mengeluarkan iphone miliknya, menuju menu web dan mengetikkan Luna Inaya di kolom pencari. Senyumnya mengembang saat berhasil mendapatkan alamat butik Luna berkat bantuan om google.
***
         Luna mendesah untuk kesekian kalinya. Dibenaknya berputar kembali kejadian pertemuannya dengan Bara yang tak terduga. Sejujurnya dia tidak mengharapkan lagi untuk bisa bertemu kembali dengan Bara, karena dia sudah berhasil melupakan sosok itu.
         Tenth time.” Suara Reza menyadarkan Luna kalau sedari tadi dia tidak sendirian di lantai dua butiknya yang disulap jadi bengkel kerjanya.
         “Apanya yang sudah kesepuluh?” tanya Luna pada Reza yang masih membaca majalah otomotif. Reza mengangkat kepalanya dari majalah dipangkuannya.
         “Tadi kamu mendesah untuk yang kesepuluh kalinya. Mikirin apa sih?”
         Luna tersenyum geli. Entah sesibuk apapun atau tengah melakukan kegiatan lain, Reza selalu bisa merasakan kalau Luna lagi nggak berkonsentrasi karena pikiran yang berkecamuk dalam benaknya.
         “Aku ketemu Bara tadi.” Kata Luna singkat. Reza mengangkat alis sebelahnya mendengar ucapan Luna barusan.
         That’s Bara?” tanya Reza lagi memastikan kalau Bara yang disebut Luna barusan adalah Bara yang sama yang dulu sempat menjadi tokoh utama dari serial galau dihati Luna.
         Yeah, that’s Bara.” Senyum sinis menghias wajah Luna saat mengucapkan kalimat itu.
         “Trus, apa yang terjadi? Hmm let me guess, pasti kamu liatin dia dengan penuh haru sebelum menghambur kepelukannya.” Ledek Reza yang langsung mendapat hadiah lemparan koran dari Luna. Reza langsung terbahak dan berhenti setelah melihat ekspresi kesal dari wajah Luna.
         “Sorry…” ujar Reza kemudian sambil menyengir lebar.
         “Dia pengen ketemu lagi. Katanya dia masih lima hari lagi disini.” Kata Luna lagi.
         “Kamu sendiri gimana? Pengen ketemu lagi sama dia?”
         Luna mengangkat bahunya, “Nggak tahulah. Pengen nggak pengen sih. What do you think?
         “Ketemu aja. Kan dia juga cuma lima hari doang.”
         Should I?”
         Maybe you should. To finish unleft spoken mungkin. Biar masing-masing bisa lega.”
         Pikiran Luna menerawang lagi. Mungkin Reza benar, tidak ada salahnya kalau memang dia bertemu lagi dengan Bara.
***
         So here they are, Luna dan Bara duduk berhadapan di pojokan kafe yang dulu pernah jadi saksi bisu mereka menghabiskan malam minggu. Dengan Luna yang selalu mendengar keseharian Bara hari itu tapi dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menceritakan harinya.
         “Tau darimana alamat butikku?” tanya Luna membuka pembicaraan. Yah Luna memang terkejut saat Bara tiba-tiba muncul di butiknya pagi ini.
         Bara mengacungkan iphone miliknya. “Say thanks to google. Aku heran kamu sudah seterkenal ini tapi aku nggak bisa menemukan kamu sekian tahun ini.”
         Luna tersenyum tipis. Bara mencarinya.
         “Kenapa kamu mencari aku?” tanya Luna.
         Bara memajukan badannya dan menumpukan lengannya diatas meja.
         I think I earn you sorry.” Kata Bara lembut tapi tegas.
         You think?” Luna menatap langsung mata Bara.
         “Yah, aku memang berhutang maaf sama kamu.”
         Luna tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
         “Nggak perlu. Kamu tahu aku selalu maafin kamu. Lagipula itu sudah lama berlalu. Nggak etis buat dibahas lagi.”
         “Gimana kabar Ares?”
         Hah Ares. Luna hampir mendengus mendengar pertanyaan itu. Dia sendiri tidak tahu lagi kabar Ares setelah mereka putus. Ares si cowok romantis yang berhasil membuat Luna lepas dari Bara.
         “Nggak tahu. Nggak pernah dengar kabarnya lagi. Kenapa harus nanyain Ares? Bukannya kamu benci sama dia?”
         “Cuma pengen tahu aja. Kali aja hubungan kalian awet sampe sekarang.” Ucapannya barusan berhasil membuat Luna tertawa.
         “Apa kerjaan kamu sekarang?” tanya Luna mengalihkan pembicaraan.
         “Sesuai passionku sejak dulu. Design interior, kantorku di Singapura. Sudah empat tahun sejak terakhir aku kesini.”
         “Ada kerjaan disini?”
         “Yah begitulah. Selain pekerjaan, niatku tadinya juga mau mencari kamu. Ternyata Tuhan malah mempertemukan aku dengan kamu sebelum aku mulai mencari kamu.”
         “Sekarang sudah ketemu kan? Kalau ketemu kamu mau ngapain?”
         Bara mengeluarkan secarik kertas dari dompetnya dan mengulurkannya pada Luna.
         “Apa ini?” tanya Luna sambil mengernyit.
         “Baca aja.”
         Luna membuka lipatan kertas itu dan mulai membaca. Matanya melebar membaca tulisan yang merupakan tulisan tangan Bara sendiri.
         A things I’ll do if I meet Luna Inaya again :
-          Apologize to her.
-          Listening anything about her life.
-          Mengajaknya ke Dufan dan membelikannya es krim.
“Itu hutangku ke kamu selama kita pacaran dulu. Setelah kamu nggak ada baru aku paham dengan arti penyesalan selalu datang terlambat. So…how?”
“Apanya yang gimana?”
“Apa kamu mau kasih aku kesempatan untuk membayar hutang-hutangku?” Bara menatapnya dengan penuh harap. “I hope you say yes Lun. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa bersalahku karena terlalu menyia-nyiakan kamu dulu.”
Luna merenung lagi. Yah Bara memang tidak pernah menjadi pendengar yang baik. Bahkan Bara melupakan janjinya untuk mengajak Luna ke Dufan bermain wahana ekstrem sampai puas dan membelikannya es krim di hari ulang tahun Luna karena Bara sibuk nge-band dengan teman-temannya. Dan Luna tidak pernah protes, dia lebih memilih menyimpan rasa kecewanya dan tersenyum saat Bara meminta maaf untuk kesekian kali.
To finish unleft spoken mungkin. Biar masing-masing lega.’ Ucapan Reza terngiang kembali membuat Luna mengangguk perlahan. Bara tersenyum lega.
I will not let you feel disappoint this time.” Kata Bara.
Lagi-lagi Luna hanya tersenyum.
“Oh iya dan satu lagi sebenarnya ada hal yang nggak aku tulis. Tapi aku bermaksud akan mengatakan langsung ke kamu kalau tiga hal yang aku tulis itu berhasil.”
***


         Luna terbahak melihat ekspresi Bara setelah mereka turun dari wahana kora-kora. Bara pucat setengah mati. Sebenarnya Bara dulu pernah berjanji tidak akan pernah menaiki wahana itu lagi tapi karena Luna memohon dan dia kembali teringat akan janjinya, Bara terpaksa memenuhi keinginan Luna.
         “Nih minum dulu.” Luna menyodorkan sebotol air mineral yang langsung diteguknya sampai habis.
         “Mau istirahat dulu? Masih ada tornado sama hysteria lho.” Kata Luna lagi dengan nada setengah menggoda. Bara mengangguk. “Menderita banget sih habis naik gituan doang. Kalo aku tahu kamu bakal seperti ini, aku nggak bakalan maksa tadi. Sori yah?”
         “It’s okelah Lun. Aku kan sudah janji.”
         Bara memang mulai menepati janjinya. Kemarin selama seharian dia mendengar cerita Luna bagaimana sampai dia bisa berhasil dengan pekerjaannya sekarang, menjadi seorang fashion stylist dengan butik yang laris manis. Dan sikap Luna perlahan mulai menghangat. Dari cerita-cerita Luna pula baru dia menyadari kalau dia sudah terlalu menyia-nyiakan gadis yang luar biasa ini dulu. Yah dia terlalu jaim dan cuek untuk mengakui kalau dia sangat menyayangi Luna. Keyakinannya kalau Luna mencintainya dan menerima dirinya apa adanya terlalu besar. Sampai seorang Ares hadir dikehidupan Luna dan merebut Luna dari sisinya.
         “Bisa lanjut lagi nggak?” tanya Luna penuh harap.
         “Let’s go.” Sahut Bara mantap.
***
         Luna menyapukan pandangannya ke pemandangan dibawah sana. Matahari mulai terbenam. Bianglala menjadi wahana terakhir pilihan Luna.
         “Thanks yah Bara. Kamu sempat bikin aku benci datang kesini, tapi kamu juga yang membuat aku ingin kesini lagi.” Kata Luna. Bara memandangi Luna. Gadis itu tetap terlihat cantik meskipun sudah seharian mereka berpindah dari satu wahana ke wahana lainnya.
         “Aku nyesel banget waktu itu Lun, tapi kamu tahu sendiri gimana sikap aku dulu. Keliatannya aja aku cuek, padahal sebenarnya dalam hati aku terlalu malu untuk minta maaf karena sudah melupakan ulang tahun kamu.”
         “Kamu kayak orang mau meninggal aja. Minta maaf terus kerjaannya.” Luna menyikut pelan lengan Bara. “Padahal kan’ aku yang ninggalin kamu demi Ares.”
         Bara menggeleng. “Tapi semua karena salahku Lun. Waktu teman-temanku tahu kamu putus dariku dan jadian dengan Ares, tahu nggak mereka bilang apa?” kali ini Luna yang menggeleng.
         “Mereka bilang sukurin, punya cewek yang benar-benar sayang tapi selalu disia-siakan. Aku juga gak ngerti kenapa bisa aku terlalu cuek. Padahal itu selalu menjadi alasan semua cewek nyerah dan memilih meninggalkan aku.”
         Then you should learn from the past. I’ve did.” Luna menarik nafas perlahan sebelum melanjutkan. “Aku yang dulu itu nggak pernah bisa mencurahkan perasaan aku yang sebenarnya. Meskipun marah, kecewa, sedih, aku nggak bisa mencurahkan semuanya. Aku hanya bisa tersenyum dan berusaha memaafkan padahal sebenarnya aku nggak ikhlas. Kalau saja dulu aku bisa lebih jujur ke kamu, mungkin hubungan kita nggak perlu berakhir seperti itu. Setelah kejadian itu, aku berjanji untuk lebih bisa jujur dan terbuka dengan segala yang aku rasakan.”
         Hening. Masing-masing larut dengan pikirannya. Mungkin dulu karena Luna tidak pernah protes hingga Bara tidak pernah berniat untuk merubah sikapnya. Entah apa yang ada dipikirannya setiap kali jalan dengan Luna dan bertemu kawan lama dia malah memperkenalkan Luna sebagai sepupunya. Dan dia tidak pernah menyadari kalau sikapnya itu telah melukai hati Luna begitu dalam. Bukan salah Luna kalau dia memilih Ares yang begitu perhatian dan meninggalkan Bara yang terlalu cuek dan super jaim. Bahkan saat itu dia tidak berhenti menyalahkan Luna yang ditudingnya tidak setia.
         Bianglala berhenti. Luna beranjak bersiap keluar dari wahana itu.
         “Sudah selesai. Pulang yuk?” ajak Luna yang diikuti anggukan Bara. “Well, kamu sudah melakukan apa yang ingin kamu lakukan kalau ketemu aku lagi. Jujur, aku senang banget hari ini.”
         “Besok hari terakhirku. Bisa kita ketemu lagi kan? Ada hal terakhir yang pengen aku tanyakan ke kamu.”
         “Oke.” Jawab Luna sambil menyunggingkan senyum tipis.
***
         Ini hari terakhir Bara dan dia berniat untuk meminta kesempatan kedua pada Luna. Dia tidak berpikir kalau Luna sudah punya pacar karena toh berapa hari terakhir ini selalu Luna habiskan dengannya. Tidak ada gadis yang sudah punya pacar tapi memilih untuk menghabiskan waktu dengan mantannya. Lagipula Luna tidak pernah mengatakan apa-apa soal dirinya yang sudah punya pacar.
         Kalau dulu Bara sulit mengakui kalau dia sangat menyayangi Luna, sekarang dia tidak ragu ingin bilang kalau Luna mantan terindahnya. Kehadiran Luna dikehidupannya dulu meninggalkan bekas yang mendalam. Sampai sekarang Bara tidak bisa melupakan Luna, dan kalau Luna mau memberinya kesempatan kedua, Bara tidak akan pernah mengecewakannya lagi.
         “Hai, udah lama?” sapa Luna sambil menarik kursi dihadapannya.
         “Nggak juga. Buat kamu aku rela kok nunggu seribu tahun.” Gombal Bara. Luna mengangkat sebelah alisnya dan tertawa.
         “Sejak kapan Bara Yudanta ngegombal kayak gini?” kata Luna.
         “Sejak ketemu kamu lagi Lun.” Bara berkata sambil menatap Luna penuh arti. Dada Luna sedikit berdesir melihat tatapan Bara yang dulu membuatnya jatuh cinta pada Bara. “Penyanyi favorit kamu sekarang siapa?” tanya Bara kemudian.
         “Hmm Taylor Swift. Kenapa?” Luna balik bertanya.
         You’re my ‘Back To December’ Lun.” Kata Bara lembut. Luna mengerutkan keningnya dan melempar pandangan yang menuntut penjelasan. “Lagu back to December Taylor Swift seperti mewakili perasaanku ke kamu saat ini. I wanna second chance Lun, to fix all my mistake that I’ve done to you. Aku dulu sangat menyayangi kamu sampai sekarang. Kenapa aku nggak juga punya pacar, karena aku selalu stuck dengan satu nama. Luna Inaya.”
         Mulut Luna membuka kemudian kembali menutup. Bingung harus menanggapi apa perkataan Bara barusan. Dia tidak menyangka kalau Bara akan meminta kesempatan kedua.
         “Kalau dulu aku mungkin terlalu jaim untuk mengatakan aku sayang kamu. Tapi sekarang aku mau bilang kalau kamu mantan terindahku Lun. Aku suka senyum kamu, aku suka diperhatikan oleh kamu, aku suka saat kamu bilang sayang aku, aku suka kejutan ulangtahun dari kamu. Dan aku merindukan itu semua.”
         Luna masih terdiam. Matanya memandang lurus kekedua mata Bara tapi Bara tidak bisa mengartikan pandangan itu.
         “Kamu punya pacar Lun?” Bara memberanikan diri bertanya karena sejak tadi Luna belum mengeluarkan sepatah katapun.
         Luna menarik nafas perlahan sebelum menggeleng pelan. Bara hampir melonjak girang, artinya dia masih punya kesempatan. “Aku sungguh-sungguh dengan semua ucapanku tadi Lun.” Kata Bara lagi penuh harap.
         If I am your ‘back to december’, then you’re my ‘begin again’.” Luna menyebutkan salah satu judul lagu Taylor Swift yang mewakili perasaannya saat ini terhadap Bara yang membuat senyum mengembang diwajah pria itu. Refleks Bara langsung menggenggam tangan Luna.
         But you’re not the ‘you’ at that song Bar. You’re the ‘he’.” Kata Luna lagi lembut tapi menohok sambil perlahan menarik tangannya dari genggaman Bara. Senyum diwajah Bara perlahan menghilang. Dibenaknya berusaha memutar lirik dari lagu Begin Again-nya Taylor Swift.
         I think it’s strange that you think I’m funny cause he never did
         Sepenggal lirik dari lagu itu langsung membuat semangat Bara drop ke level terendah. Senyumnya kini menghilang. Dia menatap Luna yang kini pandangannya teralih ke pintu masuk kafe. Senyum mengembang diwajah Luna. Bara mengikuti pandangan Luna dan jantungnya serasa berhenti saat melihat sosok pria jangkung berkacamata yang very good looking berjalan kearah meja mereka.
         “Aku memang nggak punya pacar Bara, but I have a future husband.” Kata Luna tepat sebelum pria itu tiba disamping meja mereka. “Kenalin Bara, ini Reza tunanganku.”
         Bara tidak bisa membayangkan seperti apa ekspresi wajahnya saat ini. Rasanya dia ingin segera menghilang. Reza mengulurkan tangan dengan ramah pada Bara yang disambutnya dengan senyum kaku.
         “Sepertinya kalian belum selesai ngobrol nih. Ya udah, aku tunggu didepan yah.” kata Reza dan langsung berlalu setelah pamit pada Bara.
         “Well, terima kasih sudah mau meminta kesempatan kedua Bar. But it’s too late, sekalipun aku belum bertunangan dengan Reza aku belum tentu menerimanya. Bagiku yang berlalu ya sudah berlalu.” Luna mengusap tangan Bara perlahan.
         “Kamu sudah melunasi segala hutang kamu ke aku dulu. Setidaknya aku tahu kalau dulu kamu memang menyayangi aku meskipun kamu baru berani mengakui sekarang. Dan segala bentuk rasa sakit hati aku juga perlahan menghilang. So, sekarang kamu nggak perlu merasa stuck dengan satu nama lagi. You should move on, like I did.” Luna tersenyum lagi. Senyum puas.
         “Semoga hari-hari kamu semakin baik lagi yah Bara. I should go now, makasih sekali lagi.” Luna mulai merapikan barang-barangnya dan berdiri. Sebelum berlalu Luna mengulurkan tangannya pada Bara. “Selamat tinggal Bara.” Bara  menatap uluran tangan Luna agak lama sebelum dia menyambut uluran tangan mantan kekasihnya itu.
         “Oh iya, satu lagi.” Kata Luna sebelum dia melangkah. “Nggak ada namanya mantan terindah di dunia ini Bara. Kalau memang terindah, kenapa harus jadi mantan?” Luna kembali melemparkan senyuman sebelum benar-benar berlalu dari hadapan Bara yang hanya bisa duduk diam mematung. Menyesal? Tidak ada gunanya lagi.
***
        
        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar