“Luna?”
Luna menoleh kearah suara yang
memanggilnya saat dia tengah asyik mencari novel-novel romance untuk melengkapi
koleksinya. Matanya membulat saat mendapati sosok Bara, pria dari masa lalunya
tengah memandanginya sambil tersenyum. Kedua tangannya dimasukkan dalam saku
celana jeans.
“Bara?” lirih Luna nyaris tidak
terdengar.
“Apa kabar?”
Pertanyaan singkat dari Bara yang
membuat Luna melupakan niat awalnya tadi untuk mencari novel romance terbaru.
Dia malah berakhir di food court bersama Bara. Entah kenapa dia langsung
mengangguk begitu Bara menawarkan untuk makan siang bersama, mengingat akhir
hubungan mereka yang tidak mengenakkan.
“Kamu banyak berubah, makin cantik.”
Kata Bara membuka obrolan setelah mereka memesan makan siang. Luna hanya mengangguk
singkat.
‘Yah tentu saja. I’m brighter after we broke up.’ batin Luna.
“Sudah lama yah sejak pertemuan
terakhir kita. Kamu kerja dimana sekarang?” tanya Bara lagi.
“Nggak kerja kok. Cuma buka butik
kecil-kecilan.” Jawab Luna sambil menyesap orange juice-nya.
“Lho, bukannya kamu kuliah akuntansi?
Kok jadi malah buka butik?”
Luna mengangkat kedua bahunya. “Sempat
kerja di Bank sih setahun but I decided
to quite. Ternyata passion aku yah di bidang fashion.”
“Aku nggak pernah tahu kalau kamu
tertarik soal fashion.”
‘Hmm pastinya.’ Batin Luna lagi. Dia
melirik Alexander Christie dipergelangan tangannya.
“I
have to go now. Ada janji dengan orang majalah. Thanks for the lunch.” Luna meraih tote bag-nya bersiap untuk
pergi.
“Bisa kita ketemu lagi? Aku masih lima
hari lagi disini.” Bara menahan lengan Luna yang dilepaskan perlahan oleh Luna.
“Oke.” Satu jawaban singkat, lalu Luna
pun berlalu.
Bara memandangi punggung Luna yang
mulai menjauh. Enam tahun berlalu, secara fisik Luna banyak berubah. Tubuhnya
yang dulu kurus sekarang mulai berisi, dan tidak ada lagi bekas jerawat yang
menghiasi wajahnya. Rambut bob pendek sekarang berganti dengan curly hair yang
menjuntai indah sampai dibahu. Luna jauh lebih cantik. Tapi Bara tidak lagi
merasakan keramahan seorang Luna Inaya yang membuatnya jatuh cinta tujuh tahun
yang lalu. Senyumannya pun terkesan dipaksakan dan Bara tahu Luna tidak nyaman
saat bersama dengannya. Diapun menyadari kalau semua itu karena kesalahannya
juga. Bagaimana pun, Bara ingin memperbaiki semuanya lagi. Dia mengeluarkan
iphone miliknya, menuju menu web dan mengetikkan Luna Inaya di kolom pencari.
Senyumnya mengembang saat berhasil mendapatkan alamat butik Luna berkat bantuan
om google.
***
Luna mendesah untuk kesekian kalinya.
Dibenaknya berputar kembali kejadian pertemuannya dengan Bara yang tak terduga.
Sejujurnya dia tidak mengharapkan lagi untuk bisa bertemu kembali dengan Bara,
karena dia sudah berhasil melupakan sosok itu.
“Tenth
time.” Suara Reza menyadarkan Luna kalau sedari tadi dia tidak sendirian di
lantai dua butiknya yang disulap jadi bengkel kerjanya.
“Apanya yang sudah kesepuluh?” tanya
Luna pada Reza yang masih membaca majalah otomotif. Reza mengangkat kepalanya
dari majalah dipangkuannya.
“Tadi kamu mendesah untuk yang
kesepuluh kalinya. Mikirin apa sih?”
Luna tersenyum geli. Entah sesibuk
apapun atau tengah melakukan kegiatan lain, Reza selalu bisa merasakan kalau
Luna lagi nggak berkonsentrasi karena pikiran yang berkecamuk dalam benaknya.
“Aku ketemu Bara tadi.” Kata Luna
singkat. Reza mengangkat alis sebelahnya mendengar ucapan Luna barusan.
“That’s
Bara?” tanya Reza lagi memastikan kalau Bara yang disebut Luna barusan
adalah Bara yang sama yang dulu sempat menjadi tokoh utama dari serial galau
dihati Luna.
“Yeah,
that’s Bara.” Senyum sinis menghias wajah Luna saat mengucapkan kalimat
itu.
“Trus, apa yang terjadi? Hmm let me guess, pasti kamu liatin dia
dengan penuh haru sebelum menghambur kepelukannya.” Ledek Reza yang langsung mendapat
hadiah lemparan koran dari Luna. Reza langsung terbahak dan berhenti setelah
melihat ekspresi kesal dari wajah Luna.
“Sorry…” ujar Reza kemudian sambil
menyengir lebar.
“Dia pengen ketemu lagi. Katanya dia
masih lima hari lagi disini.” Kata Luna lagi.
“Kamu sendiri gimana? Pengen ketemu
lagi sama dia?”
Luna mengangkat bahunya, “Nggak
tahulah. Pengen nggak pengen sih. What do
you think?”
“Ketemu aja. Kan dia juga cuma lima
hari doang.”
“Should
I?”
“Maybe
you should. To finish unleft spoken mungkin. Biar masing-masing bisa lega.”
Pikiran Luna menerawang lagi. Mungkin
Reza benar, tidak ada salahnya kalau memang dia bertemu lagi dengan Bara.
***
So here they are, Luna dan Bara duduk
berhadapan di pojokan kafe yang dulu pernah jadi saksi bisu mereka menghabiskan
malam minggu. Dengan Luna yang selalu mendengar keseharian Bara hari itu tapi
dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menceritakan harinya.
“Tau darimana alamat butikku?” tanya
Luna membuka pembicaraan. Yah Luna memang terkejut saat Bara tiba-tiba muncul
di butiknya pagi ini.
Bara mengacungkan iphone miliknya. “Say thanks to google. Aku heran kamu
sudah seterkenal ini tapi aku nggak bisa menemukan kamu sekian tahun ini.”
Luna tersenyum tipis. Bara mencarinya.
“Kenapa kamu mencari aku?” tanya Luna.
Bara memajukan badannya dan menumpukan
lengannya diatas meja.
“I
think I earn you sorry.” Kata Bara lembut tapi tegas.
“You
think?” Luna menatap langsung mata Bara.
“Yah, aku memang berhutang maaf sama
kamu.”
Luna tersenyum dan menggelengkan
kepalanya pelan.
“Nggak perlu. Kamu tahu aku selalu
maafin kamu. Lagipula itu sudah lama berlalu. Nggak etis buat dibahas lagi.”
“Gimana kabar Ares?”
Hah Ares. Luna hampir mendengus
mendengar pertanyaan itu. Dia sendiri tidak tahu lagi kabar Ares setelah mereka
putus. Ares si cowok romantis yang berhasil membuat Luna lepas dari Bara.
“Nggak tahu. Nggak pernah dengar
kabarnya lagi. Kenapa harus nanyain Ares? Bukannya kamu benci sama dia?”
“Cuma pengen tahu aja. Kali aja
hubungan kalian awet sampe sekarang.” Ucapannya barusan berhasil membuat Luna
tertawa.
“Apa kerjaan kamu sekarang?” tanya Luna
mengalihkan pembicaraan.
“Sesuai passionku sejak dulu. Design
interior, kantorku di Singapura. Sudah empat tahun sejak terakhir aku kesini.”
“Ada kerjaan disini?”
“Yah begitulah. Selain pekerjaan,
niatku tadinya juga mau mencari kamu. Ternyata Tuhan malah mempertemukan aku
dengan kamu sebelum aku mulai mencari kamu.”
“Sekarang sudah ketemu kan? Kalau
ketemu kamu mau ngapain?”
Bara mengeluarkan secarik kertas dari
dompetnya dan mengulurkannya pada Luna.
“Apa ini?” tanya Luna sambil
mengernyit.
“Baca aja.”
Luna membuka lipatan kertas itu dan
mulai membaca. Matanya melebar membaca tulisan yang merupakan tulisan tangan
Bara sendiri.
A things I’ll do if I meet Luna Inaya again
:
-
Apologize to her.
-
Listening anything about her life.
-
Mengajaknya ke Dufan dan
membelikannya es krim.
“Itu
hutangku ke kamu selama kita pacaran dulu. Setelah kamu nggak ada baru aku
paham dengan arti penyesalan selalu datang terlambat. So…how?”
“Apanya
yang gimana?”
“Apa
kamu mau kasih aku kesempatan untuk membayar hutang-hutangku?” Bara menatapnya
dengan penuh harap. “I hope you say yes
Lun. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa bersalahku karena terlalu
menyia-nyiakan kamu dulu.”
Luna
merenung lagi. Yah Bara memang tidak pernah menjadi pendengar yang baik. Bahkan
Bara melupakan janjinya untuk mengajak Luna ke Dufan bermain wahana ekstrem
sampai puas dan membelikannya es krim di hari ulang tahun Luna karena Bara
sibuk nge-band dengan teman-temannya. Dan Luna tidak pernah protes, dia lebih
memilih menyimpan rasa kecewanya dan tersenyum saat Bara meminta maaf untuk
kesekian kali.
‘To finish unleft spoken mungkin. Biar
masing-masing lega.’ Ucapan Reza terngiang kembali membuat Luna mengangguk
perlahan. Bara tersenyum lega.
“I will not let you feel disappoint this
time.” Kata Bara.
Lagi-lagi
Luna hanya tersenyum.
“Oh
iya dan satu lagi sebenarnya ada hal yang nggak aku tulis. Tapi aku bermaksud
akan mengatakan langsung ke kamu kalau tiga hal yang aku tulis itu berhasil.”
***
Luna
terbahak melihat ekspresi Bara setelah mereka turun dari wahana kora-kora. Bara
pucat setengah mati. Sebenarnya Bara dulu pernah berjanji tidak akan pernah
menaiki wahana itu lagi tapi karena Luna memohon dan dia kembali teringat akan
janjinya, Bara terpaksa memenuhi keinginan Luna.
“Nih minum dulu.” Luna menyodorkan
sebotol air mineral yang langsung diteguknya sampai habis.
“Mau istirahat dulu? Masih ada tornado
sama hysteria lho.” Kata Luna lagi dengan nada setengah menggoda. Bara
mengangguk. “Menderita banget sih habis naik gituan doang. Kalo aku tahu kamu
bakal seperti ini, aku nggak bakalan maksa tadi. Sori yah?”
“It’s okelah Lun. Aku kan sudah janji.”
Bara memang mulai menepati janjinya.
Kemarin selama seharian dia mendengar cerita Luna bagaimana sampai dia bisa
berhasil dengan pekerjaannya sekarang, menjadi seorang fashion stylist dengan
butik yang laris manis. Dan sikap Luna perlahan mulai menghangat. Dari
cerita-cerita Luna pula baru dia menyadari kalau dia sudah terlalu
menyia-nyiakan gadis yang luar biasa ini dulu. Yah dia terlalu jaim dan cuek
untuk mengakui kalau dia sangat menyayangi Luna. Keyakinannya kalau Luna mencintainya
dan menerima dirinya apa adanya terlalu besar. Sampai seorang Ares hadir
dikehidupan Luna dan merebut Luna dari sisinya.
“Bisa lanjut lagi nggak?” tanya Luna
penuh harap.
“Let’s go.” Sahut Bara mantap.
***
Luna menyapukan pandangannya ke
pemandangan dibawah sana. Matahari mulai terbenam. Bianglala menjadi wahana
terakhir pilihan Luna.
“Thanks yah Bara. Kamu sempat bikin aku
benci datang kesini, tapi kamu juga yang membuat aku ingin kesini lagi.” Kata
Luna. Bara memandangi Luna. Gadis itu tetap terlihat cantik meskipun sudah
seharian mereka berpindah dari satu wahana ke wahana lainnya.
“Aku nyesel banget waktu itu Lun, tapi
kamu tahu sendiri gimana sikap aku dulu. Keliatannya aja aku cuek, padahal
sebenarnya dalam hati aku terlalu malu untuk minta maaf karena sudah melupakan ulang
tahun kamu.”
“Kamu kayak orang mau meninggal aja.
Minta maaf terus kerjaannya.” Luna menyikut pelan lengan Bara. “Padahal kan’
aku yang ninggalin kamu demi Ares.”
Bara menggeleng. “Tapi semua karena
salahku Lun. Waktu teman-temanku tahu kamu putus dariku dan jadian dengan Ares,
tahu nggak mereka bilang apa?” kali ini Luna yang menggeleng.
“Mereka bilang sukurin, punya cewek
yang benar-benar sayang tapi selalu disia-siakan. Aku juga gak ngerti kenapa
bisa aku terlalu cuek. Padahal itu selalu menjadi alasan semua cewek nyerah dan
memilih meninggalkan aku.”
“Then
you should learn from the past. I’ve
did.” Luna menarik nafas perlahan sebelum melanjutkan. “Aku yang dulu itu
nggak pernah bisa mencurahkan perasaan aku yang sebenarnya. Meskipun marah,
kecewa, sedih, aku nggak bisa mencurahkan semuanya. Aku hanya bisa tersenyum
dan berusaha memaafkan padahal sebenarnya aku nggak ikhlas. Kalau saja dulu aku
bisa lebih jujur ke kamu, mungkin hubungan kita nggak perlu berakhir seperti
itu. Setelah kejadian itu, aku berjanji untuk lebih bisa jujur dan terbuka
dengan segala yang aku rasakan.”
Hening. Masing-masing larut dengan
pikirannya. Mungkin dulu karena Luna tidak pernah protes hingga Bara tidak
pernah berniat untuk merubah sikapnya. Entah apa yang ada dipikirannya setiap
kali jalan dengan Luna dan bertemu kawan lama dia malah memperkenalkan Luna
sebagai sepupunya. Dan dia tidak pernah menyadari kalau sikapnya itu telah
melukai hati Luna begitu dalam. Bukan salah Luna kalau dia memilih Ares yang begitu
perhatian dan meninggalkan Bara yang terlalu cuek dan super jaim. Bahkan saat
itu dia tidak berhenti menyalahkan Luna yang ditudingnya tidak setia.
Bianglala berhenti. Luna beranjak
bersiap keluar dari wahana itu.
“Sudah selesai. Pulang yuk?” ajak Luna
yang diikuti anggukan Bara. “Well, kamu sudah melakukan apa yang ingin kamu
lakukan kalau ketemu aku lagi. Jujur, aku senang banget hari ini.”
“Besok hari terakhirku. Bisa kita
ketemu lagi kan? Ada hal terakhir yang pengen aku tanyakan ke kamu.”
“Oke.” Jawab Luna sambil menyunggingkan
senyum tipis.
***
Ini hari terakhir Bara dan dia berniat
untuk meminta kesempatan kedua pada Luna. Dia tidak berpikir kalau Luna sudah
punya pacar karena toh berapa hari terakhir ini selalu Luna habiskan dengannya.
Tidak ada gadis yang sudah punya pacar tapi memilih untuk menghabiskan waktu
dengan mantannya. Lagipula Luna tidak pernah mengatakan apa-apa soal dirinya
yang sudah punya pacar.
Kalau dulu Bara sulit mengakui kalau
dia sangat menyayangi Luna, sekarang dia tidak ragu ingin bilang kalau Luna
mantan terindahnya. Kehadiran Luna dikehidupannya dulu meninggalkan bekas yang
mendalam. Sampai sekarang Bara tidak bisa melupakan Luna, dan kalau Luna mau
memberinya kesempatan kedua, Bara tidak akan pernah mengecewakannya lagi.
“Hai, udah lama?” sapa Luna sambil
menarik kursi dihadapannya.
“Nggak juga. Buat kamu aku rela kok
nunggu seribu tahun.” Gombal Bara. Luna mengangkat sebelah alisnya dan tertawa.
“Sejak kapan Bara Yudanta ngegombal
kayak gini?” kata Luna.
“Sejak ketemu kamu lagi Lun.” Bara
berkata sambil menatap Luna penuh arti. Dada Luna sedikit berdesir melihat
tatapan Bara yang dulu membuatnya jatuh cinta pada Bara. “Penyanyi favorit kamu
sekarang siapa?” tanya Bara kemudian.
“Hmm Taylor Swift. Kenapa?” Luna balik
bertanya.
“You’re
my ‘Back To December’ Lun.” Kata Bara lembut. Luna mengerutkan keningnya
dan melempar pandangan yang menuntut penjelasan. “Lagu back to December Taylor
Swift seperti mewakili perasaanku ke kamu saat ini. I wanna second chance Lun, to
fix all my mistake that I’ve done to you. Aku dulu sangat menyayangi kamu
sampai sekarang. Kenapa aku nggak juga punya pacar, karena aku selalu stuck
dengan satu nama. Luna Inaya.”
Mulut Luna membuka kemudian kembali
menutup. Bingung harus menanggapi apa perkataan Bara barusan. Dia tidak
menyangka kalau Bara akan meminta kesempatan kedua.
“Kalau dulu aku mungkin terlalu jaim
untuk mengatakan aku sayang kamu. Tapi sekarang aku mau bilang kalau kamu
mantan terindahku Lun. Aku suka senyum kamu, aku suka diperhatikan oleh kamu,
aku suka saat kamu bilang sayang aku, aku suka kejutan ulangtahun dari kamu.
Dan aku merindukan itu semua.”
Luna masih terdiam. Matanya memandang
lurus kekedua mata Bara tapi Bara tidak bisa mengartikan pandangan itu.
“Kamu punya pacar Lun?” Bara
memberanikan diri bertanya karena sejak tadi Luna belum mengeluarkan sepatah
katapun.
Luna menarik nafas perlahan sebelum
menggeleng pelan. Bara hampir melonjak girang, artinya dia masih punya
kesempatan. “Aku sungguh-sungguh dengan semua ucapanku tadi Lun.” Kata Bara
lagi penuh harap.
“If
I am your ‘back to december’, then
you’re my ‘begin again’.” Luna menyebutkan salah satu judul lagu Taylor
Swift yang mewakili perasaannya saat ini terhadap Bara yang membuat senyum
mengembang diwajah pria itu. Refleks Bara langsung menggenggam tangan Luna.
“But
you’re not the ‘you’ at that song
Bar. You’re the ‘he’.” Kata Luna lagi
lembut tapi menohok sambil perlahan menarik tangannya dari genggaman Bara.
Senyum diwajah Bara perlahan menghilang. Dibenaknya berusaha memutar lirik dari
lagu Begin Again-nya Taylor Swift.
I
think it’s strange that you think I’m funny cause he never did
Sepenggal lirik dari lagu itu langsung
membuat semangat Bara drop ke level terendah. Senyumnya kini menghilang. Dia
menatap Luna yang kini pandangannya teralih ke pintu masuk kafe. Senyum
mengembang diwajah Luna. Bara mengikuti pandangan Luna dan jantungnya serasa
berhenti saat melihat sosok pria jangkung berkacamata yang very good looking
berjalan kearah meja mereka.
“Aku memang nggak punya pacar Bara, but I have a future husband.” Kata Luna
tepat sebelum pria itu tiba disamping meja mereka. “Kenalin Bara, ini Reza
tunanganku.”
Bara tidak bisa membayangkan seperti
apa ekspresi wajahnya saat ini. Rasanya dia ingin segera menghilang. Reza
mengulurkan tangan dengan ramah pada Bara yang disambutnya dengan senyum kaku.
“Sepertinya kalian belum selesai
ngobrol nih. Ya udah, aku tunggu didepan yah.” kata Reza dan langsung berlalu
setelah pamit pada Bara.
“Well, terima kasih sudah mau meminta
kesempatan kedua Bar. But it’s too late,
sekalipun aku belum bertunangan dengan Reza aku belum tentu menerimanya. Bagiku
yang berlalu ya sudah berlalu.” Luna mengusap tangan Bara perlahan.
“Kamu sudah melunasi segala hutang kamu
ke aku dulu. Setidaknya aku tahu kalau dulu kamu memang menyayangi aku meskipun
kamu baru berani mengakui sekarang. Dan segala bentuk rasa sakit hati aku juga
perlahan menghilang. So, sekarang kamu nggak perlu merasa stuck dengan satu
nama lagi. You should move on, like I did.”
Luna tersenyum lagi. Senyum puas.
“Semoga hari-hari kamu semakin baik
lagi yah Bara. I should go now,
makasih sekali lagi.” Luna mulai merapikan barang-barangnya dan berdiri.
Sebelum berlalu Luna mengulurkan tangannya pada Bara. “Selamat tinggal Bara.”
Bara menatap uluran tangan Luna agak
lama sebelum dia menyambut uluran tangan mantan kekasihnya itu.
“Oh iya, satu lagi.” Kata Luna sebelum
dia melangkah. “Nggak ada namanya mantan terindah di dunia ini Bara. Kalau
memang terindah, kenapa harus jadi mantan?” Luna kembali melemparkan senyuman
sebelum benar-benar berlalu dari hadapan Bara yang hanya bisa duduk diam
mematung. Menyesal? Tidak ada gunanya lagi.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar