Selasa, 25 Februari 2014

Love Is a Choice #Part 1



I must have been crazy. Apa-apaan ini Raditya??? Kalau sampai Naomi dan Talita tahu bakalan mampus aku dibantai mereka. Yeah call me stupid saat mau-mau saja bertemu dengan Nadya. Bukan bertemu sih tapi Nadya yang datang ke kantorku setelah aku mengacuhkan puluhan SMS dan mengabaikan teleponnya. And I hate to say this, but I still miss and love her to the moon and back. Walaupun dia sudah sangat meremukkan hatiku saat memutuskan menikah dengan laki-laki lain tiga bulan setelah memutuskanku secara sepihak. Alasannya karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan jarang menghujani dia dengan SMS-SMS atau BBM yang nggak penting.
         Maksudku, apa penting setiap saat aku menanyakan kabarnya padahal baru semalam sebelumnya kami bertemu. Apa penting setiap saat harus bilang aku cinta kamu padahal sudah jelas-jelas aku bakalan menikahinya. Dan aku sibuk kerja itu demi siapa kalau bukan demi masa depan aku dan dia. But yeah, that’s not enough for her and he dumped me for that stupid reason. That’s why I can’t understand about woman’s thought. Nggak semua perempuan sih, karena Naomi dan Talita dua sahabatku sejak kecil bukan tipe seperti Nadya yang manja dan menyebalkan tapi anehnya membuatku jatuh cinta setengah mati. Dan sekalipun dia sudah menghancurkan hatiku, aku masih saja begitu mencintainya.
         “Sori Dit kalau aku tiba-tiba saja muncul disini. Aku nggak punya jalan lain. Aku nyaris frustasi karena kamu nggak pernah balas SMS aku.” Kata Nadya dengan nada manjanya saat kami tiba di coffee shop yang terletak di lobi gedung kantorku. Oh yah satu lagi, Nadya bukan cuma manja dan menyebalkan tapi dramaqueen juga. Nyaris frustasi katanya barusan, yang memilih buat kawin sama orang lain siapa?
         “To the point saja Nad. Kerjaanku banyak dan aku juga nggak mau sampai kenalanku melihat aku ngobrol berduaan dengan mantan pacarku yang sudah jadi istri orang.” Wow! Itu beneran aku? Ternyata aku masih bisa juga menahan diri untuk nggak melompati meja dan memeluk Nadya dengan penuh rindu.
         I miss you Dit.” Kata Nadya nyaris memekik. Oke mungkin dia memang benar soal dirinya yang nyaris frustasi. Dan aku juga menyadari kalau Nadya sekarang ini nampak rapuh. Call me bastard, tapi aku harus akui kalau aku senang melihatnya seperti ini. Duduk didepanku dengan penyesalan penuh dan mengakui kalau dia merindukanku juga.
         “Aku tahu aku nggak pantas bilang itu ke kamu. I was so selfish and so spoiled when I decided to broke up with you. Emosi sesaat yang akhirnya menyerang balik diriku.”
         “Nggak ada gunanya lagi Nadya. Kamu sudah menikah, punya suami.”
         But I’m not happy. He’s not better than you. Aku sudah seminggu pulang ke apartemenku lagi.”
         Hell no!! Baru tiga bulan dan Nadya sudah pisah dengan suaminya? Ini bukan pernikahan selebriti kan? Aku yakin 100% suami Nadya bukan dari kalangan selebriti. So why Nadya? Why??
         “Dia nggak pernah mau dengerin aku.” Seolah dapat membaca pikiranku, Nadya mengutarakan penyebab dia pisah dengan suaminya. Yah tentu saja perempuan manja seperti Nadya selalu ingin didengar. Nggak terhitung deh berapa kali dia merajuk sewaktu kami pacaran dulu cuma gara-gara aku nggak mau nurut sama kemauannya.
         “Tetap saja nggak menjadikan alasan untuk kamu seenaknya datang menemui aku.” Huh sok jual mahal padahal tadi saat Nadya muncul didepan pintu ruanganku, aku nyaris saja menangis terharu. Dan yah untuk kali ini hati berhasil mengalahkan logikaku. Aku melirik ke pintu masuk coffee shop dan mendapati Dera rekan kerjaku tengah berjalan kearahku.
         “Lo disini? Lupa yah ada meeting sama calon klien. I’ll give you five minutes. Gue tunggu di parkiran” Dera langsung nyerocos dan tanpa menunggu jawabanku dia langsung melengos pergi. Aku melirik Nadya yang ekspresinya kentara sekali nggak suka sama cara Dera barusan atau sama Dera-nya mungkin.
         “Dia siapa? Aku nggak suka cara dia ngomong ke kamu.” Tukas Nadya. See, dia bicara seolah-olah aku ini masih miliknya.
         “Sorry Nad, but I have to go.” Aku beranjak bersiap pergi. Kemunculan Dera barusan membuatku kesal sekaligus lega. Kesal karena dia menginterupsi waktuku dengan Nadya tapi sekaligus lega karena aku jadi punya alasan untuk meninggalkan Nadya.
         “Oke. Aku tahu itu cuma alasan kamu aja Dit, but I’ll be back. Aku akan terus kembali sampai kamu mau menerima maafku. Aku tahu jauh dilubuk hati, kamu masih mencintai aku. Cos’ I feel the same too.” Kata Nadya lagi sebelum beranjak pergi.
         Aku memandangi punggungnya yang perlahan menjauh sampai menghilang dari hadapanku. Dan desiran aneh merayapi dadaku. Dan seandainya saja saat ini aku dan Dera tidak harus menemui calon klien, aku mungkin sudah berlari mengejar Nadya dan menenggelamkannya kedalam pelukanku.
***
         Talita melambaikan tangannya saat aku memasuki Anomali Coffee. Ini memang tempat nongkrong favorit kami bertiga semenjak kami mulai sibuk dengan kerjaan masing-masing dan jadi penggila kopi. Aku langsung mengecup pipi Talita, hal yang sama juga baru mau aku lakukan ke Naomi tapi nggak jadi karena pekikan pelannya.
         “Sialan!! Mau lo apa siiiiiiih??” Naomi melotot ke layar Galaxy Note 3-nya membuatku berjengit kaget dan menoleh ke Talita meminta penjelasan.
         “Flappy bird dan PMS.” Jelas Talita singkat sambil memutar kedua bola matanya. Dan aku hanya bisa mengangguk maklum. Yah kalau ada game yang harus dihindari kaum wanita saat lagi PMS, flappy bird ada diurutan pertama.
         “Gimana kabar lo? Masih galau juga?” Naomi sepertinya sudah menyerah dengan si flappy karena dia sudah meletakkan note 3-nya. Aku belum langsung menjawab karena waiters yang datang meletakkan pesanan kami, black pearl espresso yang sudah dipesankan Talita untukku dan black forest latte untuknya dan Naomi plus klub sandwich dan kentang goreng.
         That’s why I called you. Nadya tadi ke kantor gue.” Ucapan gue barusan praktis membuat Naomi dan Talita menganga. “Katanya dia sudah pisah sama suaminya.” Tambahku lagi. Naomi bahkan sudah melotot.
         “Sudah berapa lama?” Tanya Talita lagi.
         “Seminggu katanya.”
         “Whuaaattttt????” aku dan Talita berjengit kaget mendengar pekikan Naomi. Bahkan pengunjung kafe yang lain juga ikutan menoleh. “Dia itu mau menyaingi Ayu Ting Ting?? Baru tiga bulan kan dia nikah?” kata Naomi lagi tapi dengan volume yang sudah diturunkan.
         “Alasannya apa?” Tanya Talita datar. Dua sahabatku ini pribadinya memang berbeda. Naomi orang yang ceria, blak-blakan, ramah, lebih mudah mengekspresikan perasaannya sementara Talita kebalikannya. Lebih tertutup dan terkesan jutek karena ekspresinya yang selalu datar.
         “Suaminya nggak mau dengerin dia katanya.”
         “Hah! Khas Nadya banget. Sok tuan putri, maunya didengerin terus apa maunya. Sori yah Dit kalau lo harus tersinggung, tapi mantan pacar lo yang sangat lo cintai itu so very childish. Sok manja. Sebenarnya gue nggak suka sama dia tapi karena gue sayang sama lo gue diem aja. Kenapa sih lo bisa cinta banget sama dia?” kata Naomi blak-blakan yang membuatku rada bangke juga.
         Dari kecil aku selalu dikelilingi dengan perempuan-perempuan yang mandiri. Mami aku yang sudah jadi single parent sejak aku umur 10 tahun, begitu pula dengan Naomi dan Talita yang jauh sekali dari kesan manja. Call me freak, tapi aku selalu mendambakan gadis yang manja. Secara nggak ada yang bisa gue manjain. Bahkan Talita yang yatim piatu sekalipun. Munculnya Nadya membuatku nggak bisa berpaling, karena akhirnya aku bisa memanjakan seorang perempuan.
         “Hey lupa yah? Diantara semua mantan-mantan gue, cuma Nadya yang bisa menerima persahabatan gue dengan lo berdua. Hitung deh berapa kali gue putus cinta, alasannya selalu sama, mantan-mantan gue cemburu dengan lo berdua.”
         Dan memang betul. Cuma Nadya yang nggak pernah keberatan dengan jalinan persahabatan antara aku, Naomi dan Talita. Dan Nadya satu-satunya yang nggak pernah menyuruh aku memilih antara dia atau Naomi dan Talita.
         “Belum keluar aja aslinya Raditya sayang.” Kata Naomi lagi. “Lo pacaran kan belum setahun. Kalau sudah setahun pasti dia bakalan maksa lo untuk memilih. Mantan-mantan lo yang nggak manja aja nggak tahan liat kedekatan lo sama gue dan Talita apalagi yang tipe manja kayak Nadya. Dan kenyataan kalau dia nggak pernah berusaha berbaur dengan gue dan Talita semakin menguatkan teori gue.”
         “Dia masih istri orang Dit, lo harus ingat itu. Kita sih akan selalu support lo, tapi lo harus kuat juga. Sekarang ini hati lo masih labil aja dan lo belum bisa mengenyahkan Nadya dari pikiran lo jadi ada baiknya lo jangan ketemu Nadya dulu.” Kata Talita.
         “Lagian juga jadi cowok kok cengeng banget. Move on dong maaaaaaaaan. Gue aja waktu putus sama Arjuna yang gue rasa sudah jadi belahan jiwa gue nggak segitu desperatenya. 1 setengah tahun lho gue pacaran sama dia sebelum dia malah dijodohkan.”
         Naomi kembali menggunakan senjata pamungkasnya. Yah aku memang terlalu cengeng jadi cowok. Saat harus berpisah dengan Arjuna aku tahu pasti bagaimana hancurnya Naomi, tapi dia nggak pernah menangis. Menurutnya airmatanya terlalu berharga untuk menangisi Arjuna.
         Iphone milikku yang diletakkan diatas meja bergetar. Aku melirik layarnya dan menemukan nama Nadya. Naomi yang melihat ekspresiku langsung meraih hp-ku dan me-reject panggilan Nadya. Tapi bukan Nadya namanya kalau berhenti disitu. Puluhan panggilan menyusul kemudian membuat Naomi menggeram kesal sebelum mematikan hp-ku.
         So how’s your day?” Tanya Talita mengalihkan pembicaraan.
         “Lumayanlah. Gue sama Dera berhasil dapat klien baru yang mau menggunakan jasa perusahaan kami untuk design rumah barunya. Pria muda yang mapan, sepertinya rumah itu kejutan untuk istrinya.” Setelah pertemuan dengan Nadya tadi, aku dan Dera rekan kerjaku yang juteknya juga sama kayak Talita pergi menemui calon klien kami yang kemudian berubah statusnya jadi klien setelah dia setuju untuk menggunakan jasa perusahaan tempatku mencari nafkah.
         “Dera? Rekan kerja lo yang cute dan charming itu? Is there something wrong with you? Cewek sekece itu dianggurin aja? Apalagi lo berdua kan sering kerja bareng.” Naomi memutar kedua bola matanya.
         “Ngomong apa sih lo?” aku menoyor dahi Naomi pelan yang dibalasnya dengan mengeplak tanganku. “She’s not my type at all.” Lanjutku lagi yang membuat Naomi nggak tahan untuk nggak mencibir.
         So what kind of girl can make you fall so deeply in love Raditya Mahya? Yang tipe-tipe manja nggak jelas kayak Nadya? Trust me, it won’t work. Lagian heran gue sama obsesi lo untuk manjain cewek itu? Kesannya lo jadi stupid gitu. Raditya Mahya, arsitektur mapan yang gantengnya 11-12 dengan Kim Woo Bin tapi jadi bego setelah ketemu cewek manja yang bernama Nadya.” Ya ampun sahabatku yang satu ini, cantik-cantik tapi mulutnya tajam juga. Heran si Tristan bisa betah pacaran sama Naomi. Meskipun aku agak tersanjung juga karena dia rela menyandingkan ketampananku dengan actor Korea tercintanya.
         You’re wrong. Gantengan gue kemana-mana kali’ dibanding Kim siapa itu.” Aku mencibir kearah Naomi lalu menoleh ke Talita. “Kok diem aja? Tolongin gue dong.” Kataku setengah memelas.
         Sorry darl, tapi untuk yang satu ini gue harus setuju dengan Naomi. And she’s right, why don’t you try to move on and start with this Dera?”
         What the hell with all people around me yang seakan-akan nggak berhenti mencoba membuatku melirik Dera. Bukan cuma pesona Nadya yang terlalu kuat yang membuatku sulit berpaling, tapi fakta kalau Dera nggak menyukai aku juga membuatku harus menyerah sebelum mencoba. Bukannya aku nggak pernah melirik Dera. Seperti kata Naomi tadi, Dera itu cute and charming. Nggak secantik Naomi atau Talita juga tapi entah kenapa memang ada sesuatu yang menarik darinya. Sayangnya dia selalu jutek ke aku. Artinya dia nggak suka kan sama aku? Dan itu membuatku sadar juga kalau Dera jadi perempuan ketiga yang kebal dengan pesonaku setelah Naomi dan Talita.
         Forget about Dera. She never likes me. Dia itu cewek terjutek yang pernah gue kenal. Dan kesannya tuh dia terpaksa banget setiap harus kerja bareng gue.” Jelasku yang memadamkan semangat diwajah Naomi tapi menimbulkan cahaya diwajah Talita. Crap, bahasa apa yang baru kupake barusan.
         “Lo nggak pernah berpikir kalau dia sebenarnya suka sama lo? Lo lupa gimana sikap gue ke Daffa dulu?” ucapan Talita barusan membuat ingatanku melayang ke kejadian beberapa bulan lalu sebelum aku didepak Nadya. Yah siapa yang nyangka kalau Talita yang sedingin ratu es setelah ditinggal mati mas Rendra mantan pacarnya karena kecelakaan akhirnya bisa luluh pada Daffa. Our handsome classmate when we were in High School yang sekarang tengah mengecap panggung ketenarannya di dunia entertainment. Bisa ternyata Daffa yang pecicilan meluluhkan Talita dan yang nggak pernah aku dan Naomi sangka, dibalik segala kejutekan yang dia tebarkan ke Daffa ternyata diam-diam juga dia sudah jatuh hati dengan Daffa.
         “Nggak mungkinlah. Begini yah, gue sama Dera itu interaksinya terlalu sering. Masa’ sih kalau emang dia suka sama gue dia nggak bisa berubah ramah sedikitpun. Jangankan ramah, dekat-dekat ama gue aja dia nggak betah.”
         “Nyangkal aja terus Dit, nanti juga mata lo bakal kebuka dengan sendirinya.” Kata Talita sambil mengangkat kedua bahunya.
         “Oke lupakan soal Nadya. Dan lupakan sejenak soal Raditya Mahya yang belum bisa move on. Gue punya berita bahagia sebenarnya.” Kata Naomi dan aku melihat rona bahagia yang muncul diwajahnya. “Tarrrrraaaaaaaa…..Tristan already purpose me. I’m getting married saudara-saudaraaaaaa.” Naomi mengacungkan jari manisnya yang kini sudah berhias cincin dengan batu berlian. Bahkan aku dan Talita pun ikut larut dalam kebahagiaan yang dia tularkan hingga mengacuhkan tatapan aneh pengunjung kafe lainnya akibat pekikan Naomi tadi. For God’s sake, kemana aja pikiranku sejak tadi sampai nggak menyadari kalau ada yang berkilau dijari manis Naomi.
         Congratulation my noisy Naomi. I’m so happy for you.” Bahkan Talita sudah berkaca-kaca saat mengucapkan kalimat barusan. And I do understand, Naomi getting married soon dan artinya aku dan Talita nggak bisa lagi memonopoli dirinya 100%. Shit, I even already miss her.
         “Berani juga yah Tristan ngambil resiko hidup dengan cewek paling berisik.” Kataku mencoba bercanda tapi malah terdengar miris. Ternyata sebesar ini rasa sayangku sama mereka berdua.
         “Jangan sedih gitu dong, gue kan mau merit bukannya pindah ke Uranus. And keep my words now that my married wouldn’t be obstacle for our friendship FOREVER!” Naomi menekan kata forever.
         “Gue percaya Nom.” Kataku lagi dengan senyum tulus. “Lo kapan nyusul?” kataku pada Talita.
         “Nanti yah kalau lo sudah bisa move on. Biar gue bisa merit dengan tenang.” Sahut Talita yang membuat Naomi ngakak.
         “Sialan lo!” umpatku tapi ikut ketawa juga.
         Dan yang mereka berdua lakukan selanjutnya berhasil membuatku melupakan Nadya sesaat. Saat mereka berdua mulai menggali kembali kenangan persahabatan kami yang sudah berjalan saat kami sama-sama masih pake popok. Tapi itu cuma sesaat, karena dua jam kemudian saat aku pulang dan menemukan Nadya tengah duduk melantai didepan pintu apartemenku dengan menelungkupkan kepalanya, I’ve get lost again. Aku melupakan segala usahaku yang berusaha keras mengusir bayangannya dari kepalaku karena yang kulakukan selanjutnya adalah melangkah mendekati Nadya yang belum sadar akan kehadiranku, berjongkok disampingnya dan menyentuh kepalanya lembut. Dan saat Nadya mengangkat kepalanya kemudian tersenyum lemah dan berbisik “Finally you’re home.” There’s nothing I can do but hug her deeply into my arms.

Minggu, 16 Februari 2014

Mantan Terindah



           “Luna?”
         Luna menoleh kearah suara yang memanggilnya saat dia tengah asyik mencari novel-novel romance untuk melengkapi koleksinya. Matanya membulat saat mendapati sosok Bara, pria dari masa lalunya tengah memandanginya sambil tersenyum. Kedua tangannya dimasukkan dalam saku celana jeans.
         “Bara?” lirih Luna nyaris tidak terdengar.
         “Apa kabar?”
         Pertanyaan singkat dari Bara yang membuat Luna melupakan niat awalnya tadi untuk mencari novel romance terbaru. Dia malah berakhir di food court bersama Bara. Entah kenapa dia langsung mengangguk begitu Bara menawarkan untuk makan siang bersama, mengingat akhir hubungan mereka yang tidak mengenakkan.
         “Kamu banyak berubah, makin cantik.” Kata Bara membuka obrolan setelah mereka memesan makan siang. Luna hanya mengangguk singkat.
         ‘Yah tentu saja. I’m brighter after we broke up.’ batin Luna.
         “Sudah lama yah sejak pertemuan terakhir kita. Kamu kerja dimana sekarang?” tanya Bara lagi.
         “Nggak kerja kok. Cuma buka butik kecil-kecilan.” Jawab Luna sambil menyesap orange juice-nya.
         “Lho, bukannya kamu kuliah akuntansi? Kok jadi malah buka butik?”
         Luna mengangkat kedua bahunya. “Sempat kerja di Bank sih setahun but I decided to quite. Ternyata passion aku yah di bidang fashion.”
         “Aku nggak pernah tahu kalau kamu tertarik soal fashion.”
         ‘Hmm pastinya.’ Batin Luna lagi. Dia melirik Alexander Christie dipergelangan tangannya.
         I have to go now. Ada janji dengan orang majalah. Thanks for the lunch.” Luna meraih tote bag-nya bersiap untuk pergi.
         “Bisa kita ketemu lagi? Aku masih lima hari lagi disini.” Bara menahan lengan Luna yang dilepaskan perlahan oleh Luna.
         “Oke.” Satu jawaban singkat, lalu Luna pun berlalu.
         Bara memandangi punggung Luna yang mulai menjauh. Enam tahun berlalu, secara fisik Luna banyak berubah. Tubuhnya yang dulu kurus sekarang mulai berisi, dan tidak ada lagi bekas jerawat yang menghiasi wajahnya. Rambut bob pendek sekarang berganti dengan curly hair yang menjuntai indah sampai dibahu. Luna jauh lebih cantik. Tapi Bara tidak lagi merasakan keramahan seorang Luna Inaya yang membuatnya jatuh cinta tujuh tahun yang lalu. Senyumannya pun terkesan dipaksakan dan Bara tahu Luna tidak nyaman saat bersama dengannya. Diapun menyadari kalau semua itu karena kesalahannya juga. Bagaimana pun, Bara ingin memperbaiki semuanya lagi. Dia mengeluarkan iphone miliknya, menuju menu web dan mengetikkan Luna Inaya di kolom pencari. Senyumnya mengembang saat berhasil mendapatkan alamat butik Luna berkat bantuan om google.
***
         Luna mendesah untuk kesekian kalinya. Dibenaknya berputar kembali kejadian pertemuannya dengan Bara yang tak terduga. Sejujurnya dia tidak mengharapkan lagi untuk bisa bertemu kembali dengan Bara, karena dia sudah berhasil melupakan sosok itu.
         Tenth time.” Suara Reza menyadarkan Luna kalau sedari tadi dia tidak sendirian di lantai dua butiknya yang disulap jadi bengkel kerjanya.
         “Apanya yang sudah kesepuluh?” tanya Luna pada Reza yang masih membaca majalah otomotif. Reza mengangkat kepalanya dari majalah dipangkuannya.
         “Tadi kamu mendesah untuk yang kesepuluh kalinya. Mikirin apa sih?”
         Luna tersenyum geli. Entah sesibuk apapun atau tengah melakukan kegiatan lain, Reza selalu bisa merasakan kalau Luna lagi nggak berkonsentrasi karena pikiran yang berkecamuk dalam benaknya.
         “Aku ketemu Bara tadi.” Kata Luna singkat. Reza mengangkat alis sebelahnya mendengar ucapan Luna barusan.
         That’s Bara?” tanya Reza lagi memastikan kalau Bara yang disebut Luna barusan adalah Bara yang sama yang dulu sempat menjadi tokoh utama dari serial galau dihati Luna.
         Yeah, that’s Bara.” Senyum sinis menghias wajah Luna saat mengucapkan kalimat itu.
         “Trus, apa yang terjadi? Hmm let me guess, pasti kamu liatin dia dengan penuh haru sebelum menghambur kepelukannya.” Ledek Reza yang langsung mendapat hadiah lemparan koran dari Luna. Reza langsung terbahak dan berhenti setelah melihat ekspresi kesal dari wajah Luna.
         “Sorry…” ujar Reza kemudian sambil menyengir lebar.
         “Dia pengen ketemu lagi. Katanya dia masih lima hari lagi disini.” Kata Luna lagi.
         “Kamu sendiri gimana? Pengen ketemu lagi sama dia?”
         Luna mengangkat bahunya, “Nggak tahulah. Pengen nggak pengen sih. What do you think?
         “Ketemu aja. Kan dia juga cuma lima hari doang.”
         Should I?”
         Maybe you should. To finish unleft spoken mungkin. Biar masing-masing bisa lega.”
         Pikiran Luna menerawang lagi. Mungkin Reza benar, tidak ada salahnya kalau memang dia bertemu lagi dengan Bara.
***
         So here they are, Luna dan Bara duduk berhadapan di pojokan kafe yang dulu pernah jadi saksi bisu mereka menghabiskan malam minggu. Dengan Luna yang selalu mendengar keseharian Bara hari itu tapi dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menceritakan harinya.
         “Tau darimana alamat butikku?” tanya Luna membuka pembicaraan. Yah Luna memang terkejut saat Bara tiba-tiba muncul di butiknya pagi ini.
         Bara mengacungkan iphone miliknya. “Say thanks to google. Aku heran kamu sudah seterkenal ini tapi aku nggak bisa menemukan kamu sekian tahun ini.”
         Luna tersenyum tipis. Bara mencarinya.
         “Kenapa kamu mencari aku?” tanya Luna.
         Bara memajukan badannya dan menumpukan lengannya diatas meja.
         I think I earn you sorry.” Kata Bara lembut tapi tegas.
         You think?” Luna menatap langsung mata Bara.
         “Yah, aku memang berhutang maaf sama kamu.”
         Luna tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
         “Nggak perlu. Kamu tahu aku selalu maafin kamu. Lagipula itu sudah lama berlalu. Nggak etis buat dibahas lagi.”
         “Gimana kabar Ares?”
         Hah Ares. Luna hampir mendengus mendengar pertanyaan itu. Dia sendiri tidak tahu lagi kabar Ares setelah mereka putus. Ares si cowok romantis yang berhasil membuat Luna lepas dari Bara.
         “Nggak tahu. Nggak pernah dengar kabarnya lagi. Kenapa harus nanyain Ares? Bukannya kamu benci sama dia?”
         “Cuma pengen tahu aja. Kali aja hubungan kalian awet sampe sekarang.” Ucapannya barusan berhasil membuat Luna tertawa.
         “Apa kerjaan kamu sekarang?” tanya Luna mengalihkan pembicaraan.
         “Sesuai passionku sejak dulu. Design interior, kantorku di Singapura. Sudah empat tahun sejak terakhir aku kesini.”
         “Ada kerjaan disini?”
         “Yah begitulah. Selain pekerjaan, niatku tadinya juga mau mencari kamu. Ternyata Tuhan malah mempertemukan aku dengan kamu sebelum aku mulai mencari kamu.”
         “Sekarang sudah ketemu kan? Kalau ketemu kamu mau ngapain?”
         Bara mengeluarkan secarik kertas dari dompetnya dan mengulurkannya pada Luna.
         “Apa ini?” tanya Luna sambil mengernyit.
         “Baca aja.”
         Luna membuka lipatan kertas itu dan mulai membaca. Matanya melebar membaca tulisan yang merupakan tulisan tangan Bara sendiri.
         A things I’ll do if I meet Luna Inaya again :
-          Apologize to her.
-          Listening anything about her life.
-          Mengajaknya ke Dufan dan membelikannya es krim.
“Itu hutangku ke kamu selama kita pacaran dulu. Setelah kamu nggak ada baru aku paham dengan arti penyesalan selalu datang terlambat. So…how?”
“Apanya yang gimana?”
“Apa kamu mau kasih aku kesempatan untuk membayar hutang-hutangku?” Bara menatapnya dengan penuh harap. “I hope you say yes Lun. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa bersalahku karena terlalu menyia-nyiakan kamu dulu.”
Luna merenung lagi. Yah Bara memang tidak pernah menjadi pendengar yang baik. Bahkan Bara melupakan janjinya untuk mengajak Luna ke Dufan bermain wahana ekstrem sampai puas dan membelikannya es krim di hari ulang tahun Luna karena Bara sibuk nge-band dengan teman-temannya. Dan Luna tidak pernah protes, dia lebih memilih menyimpan rasa kecewanya dan tersenyum saat Bara meminta maaf untuk kesekian kali.
To finish unleft spoken mungkin. Biar masing-masing lega.’ Ucapan Reza terngiang kembali membuat Luna mengangguk perlahan. Bara tersenyum lega.
I will not let you feel disappoint this time.” Kata Bara.
Lagi-lagi Luna hanya tersenyum.
“Oh iya dan satu lagi sebenarnya ada hal yang nggak aku tulis. Tapi aku bermaksud akan mengatakan langsung ke kamu kalau tiga hal yang aku tulis itu berhasil.”
***


         Luna terbahak melihat ekspresi Bara setelah mereka turun dari wahana kora-kora. Bara pucat setengah mati. Sebenarnya Bara dulu pernah berjanji tidak akan pernah menaiki wahana itu lagi tapi karena Luna memohon dan dia kembali teringat akan janjinya, Bara terpaksa memenuhi keinginan Luna.
         “Nih minum dulu.” Luna menyodorkan sebotol air mineral yang langsung diteguknya sampai habis.
         “Mau istirahat dulu? Masih ada tornado sama hysteria lho.” Kata Luna lagi dengan nada setengah menggoda. Bara mengangguk. “Menderita banget sih habis naik gituan doang. Kalo aku tahu kamu bakal seperti ini, aku nggak bakalan maksa tadi. Sori yah?”
         “It’s okelah Lun. Aku kan sudah janji.”
         Bara memang mulai menepati janjinya. Kemarin selama seharian dia mendengar cerita Luna bagaimana sampai dia bisa berhasil dengan pekerjaannya sekarang, menjadi seorang fashion stylist dengan butik yang laris manis. Dan sikap Luna perlahan mulai menghangat. Dari cerita-cerita Luna pula baru dia menyadari kalau dia sudah terlalu menyia-nyiakan gadis yang luar biasa ini dulu. Yah dia terlalu jaim dan cuek untuk mengakui kalau dia sangat menyayangi Luna. Keyakinannya kalau Luna mencintainya dan menerima dirinya apa adanya terlalu besar. Sampai seorang Ares hadir dikehidupan Luna dan merebut Luna dari sisinya.
         “Bisa lanjut lagi nggak?” tanya Luna penuh harap.
         “Let’s go.” Sahut Bara mantap.
***
         Luna menyapukan pandangannya ke pemandangan dibawah sana. Matahari mulai terbenam. Bianglala menjadi wahana terakhir pilihan Luna.
         “Thanks yah Bara. Kamu sempat bikin aku benci datang kesini, tapi kamu juga yang membuat aku ingin kesini lagi.” Kata Luna. Bara memandangi Luna. Gadis itu tetap terlihat cantik meskipun sudah seharian mereka berpindah dari satu wahana ke wahana lainnya.
         “Aku nyesel banget waktu itu Lun, tapi kamu tahu sendiri gimana sikap aku dulu. Keliatannya aja aku cuek, padahal sebenarnya dalam hati aku terlalu malu untuk minta maaf karena sudah melupakan ulang tahun kamu.”
         “Kamu kayak orang mau meninggal aja. Minta maaf terus kerjaannya.” Luna menyikut pelan lengan Bara. “Padahal kan’ aku yang ninggalin kamu demi Ares.”
         Bara menggeleng. “Tapi semua karena salahku Lun. Waktu teman-temanku tahu kamu putus dariku dan jadian dengan Ares, tahu nggak mereka bilang apa?” kali ini Luna yang menggeleng.
         “Mereka bilang sukurin, punya cewek yang benar-benar sayang tapi selalu disia-siakan. Aku juga gak ngerti kenapa bisa aku terlalu cuek. Padahal itu selalu menjadi alasan semua cewek nyerah dan memilih meninggalkan aku.”
         Then you should learn from the past. I’ve did.” Luna menarik nafas perlahan sebelum melanjutkan. “Aku yang dulu itu nggak pernah bisa mencurahkan perasaan aku yang sebenarnya. Meskipun marah, kecewa, sedih, aku nggak bisa mencurahkan semuanya. Aku hanya bisa tersenyum dan berusaha memaafkan padahal sebenarnya aku nggak ikhlas. Kalau saja dulu aku bisa lebih jujur ke kamu, mungkin hubungan kita nggak perlu berakhir seperti itu. Setelah kejadian itu, aku berjanji untuk lebih bisa jujur dan terbuka dengan segala yang aku rasakan.”
         Hening. Masing-masing larut dengan pikirannya. Mungkin dulu karena Luna tidak pernah protes hingga Bara tidak pernah berniat untuk merubah sikapnya. Entah apa yang ada dipikirannya setiap kali jalan dengan Luna dan bertemu kawan lama dia malah memperkenalkan Luna sebagai sepupunya. Dan dia tidak pernah menyadari kalau sikapnya itu telah melukai hati Luna begitu dalam. Bukan salah Luna kalau dia memilih Ares yang begitu perhatian dan meninggalkan Bara yang terlalu cuek dan super jaim. Bahkan saat itu dia tidak berhenti menyalahkan Luna yang ditudingnya tidak setia.
         Bianglala berhenti. Luna beranjak bersiap keluar dari wahana itu.
         “Sudah selesai. Pulang yuk?” ajak Luna yang diikuti anggukan Bara. “Well, kamu sudah melakukan apa yang ingin kamu lakukan kalau ketemu aku lagi. Jujur, aku senang banget hari ini.”
         “Besok hari terakhirku. Bisa kita ketemu lagi kan? Ada hal terakhir yang pengen aku tanyakan ke kamu.”
         “Oke.” Jawab Luna sambil menyunggingkan senyum tipis.
***
         Ini hari terakhir Bara dan dia berniat untuk meminta kesempatan kedua pada Luna. Dia tidak berpikir kalau Luna sudah punya pacar karena toh berapa hari terakhir ini selalu Luna habiskan dengannya. Tidak ada gadis yang sudah punya pacar tapi memilih untuk menghabiskan waktu dengan mantannya. Lagipula Luna tidak pernah mengatakan apa-apa soal dirinya yang sudah punya pacar.
         Kalau dulu Bara sulit mengakui kalau dia sangat menyayangi Luna, sekarang dia tidak ragu ingin bilang kalau Luna mantan terindahnya. Kehadiran Luna dikehidupannya dulu meninggalkan bekas yang mendalam. Sampai sekarang Bara tidak bisa melupakan Luna, dan kalau Luna mau memberinya kesempatan kedua, Bara tidak akan pernah mengecewakannya lagi.
         “Hai, udah lama?” sapa Luna sambil menarik kursi dihadapannya.
         “Nggak juga. Buat kamu aku rela kok nunggu seribu tahun.” Gombal Bara. Luna mengangkat sebelah alisnya dan tertawa.
         “Sejak kapan Bara Yudanta ngegombal kayak gini?” kata Luna.
         “Sejak ketemu kamu lagi Lun.” Bara berkata sambil menatap Luna penuh arti. Dada Luna sedikit berdesir melihat tatapan Bara yang dulu membuatnya jatuh cinta pada Bara. “Penyanyi favorit kamu sekarang siapa?” tanya Bara kemudian.
         “Hmm Taylor Swift. Kenapa?” Luna balik bertanya.
         You’re my ‘Back To December’ Lun.” Kata Bara lembut. Luna mengerutkan keningnya dan melempar pandangan yang menuntut penjelasan. “Lagu back to December Taylor Swift seperti mewakili perasaanku ke kamu saat ini. I wanna second chance Lun, to fix all my mistake that I’ve done to you. Aku dulu sangat menyayangi kamu sampai sekarang. Kenapa aku nggak juga punya pacar, karena aku selalu stuck dengan satu nama. Luna Inaya.”
         Mulut Luna membuka kemudian kembali menutup. Bingung harus menanggapi apa perkataan Bara barusan. Dia tidak menyangka kalau Bara akan meminta kesempatan kedua.
         “Kalau dulu aku mungkin terlalu jaim untuk mengatakan aku sayang kamu. Tapi sekarang aku mau bilang kalau kamu mantan terindahku Lun. Aku suka senyum kamu, aku suka diperhatikan oleh kamu, aku suka saat kamu bilang sayang aku, aku suka kejutan ulangtahun dari kamu. Dan aku merindukan itu semua.”
         Luna masih terdiam. Matanya memandang lurus kekedua mata Bara tapi Bara tidak bisa mengartikan pandangan itu.
         “Kamu punya pacar Lun?” Bara memberanikan diri bertanya karena sejak tadi Luna belum mengeluarkan sepatah katapun.
         Luna menarik nafas perlahan sebelum menggeleng pelan. Bara hampir melonjak girang, artinya dia masih punya kesempatan. “Aku sungguh-sungguh dengan semua ucapanku tadi Lun.” Kata Bara lagi penuh harap.
         If I am your ‘back to december’, then you’re my ‘begin again’.” Luna menyebutkan salah satu judul lagu Taylor Swift yang mewakili perasaannya saat ini terhadap Bara yang membuat senyum mengembang diwajah pria itu. Refleks Bara langsung menggenggam tangan Luna.
         But you’re not the ‘you’ at that song Bar. You’re the ‘he’.” Kata Luna lagi lembut tapi menohok sambil perlahan menarik tangannya dari genggaman Bara. Senyum diwajah Bara perlahan menghilang. Dibenaknya berusaha memutar lirik dari lagu Begin Again-nya Taylor Swift.
         I think it’s strange that you think I’m funny cause he never did
         Sepenggal lirik dari lagu itu langsung membuat semangat Bara drop ke level terendah. Senyumnya kini menghilang. Dia menatap Luna yang kini pandangannya teralih ke pintu masuk kafe. Senyum mengembang diwajah Luna. Bara mengikuti pandangan Luna dan jantungnya serasa berhenti saat melihat sosok pria jangkung berkacamata yang very good looking berjalan kearah meja mereka.
         “Aku memang nggak punya pacar Bara, but I have a future husband.” Kata Luna tepat sebelum pria itu tiba disamping meja mereka. “Kenalin Bara, ini Reza tunanganku.”
         Bara tidak bisa membayangkan seperti apa ekspresi wajahnya saat ini. Rasanya dia ingin segera menghilang. Reza mengulurkan tangan dengan ramah pada Bara yang disambutnya dengan senyum kaku.
         “Sepertinya kalian belum selesai ngobrol nih. Ya udah, aku tunggu didepan yah.” kata Reza dan langsung berlalu setelah pamit pada Bara.
         “Well, terima kasih sudah mau meminta kesempatan kedua Bar. But it’s too late, sekalipun aku belum bertunangan dengan Reza aku belum tentu menerimanya. Bagiku yang berlalu ya sudah berlalu.” Luna mengusap tangan Bara perlahan.
         “Kamu sudah melunasi segala hutang kamu ke aku dulu. Setidaknya aku tahu kalau dulu kamu memang menyayangi aku meskipun kamu baru berani mengakui sekarang. Dan segala bentuk rasa sakit hati aku juga perlahan menghilang. So, sekarang kamu nggak perlu merasa stuck dengan satu nama lagi. You should move on, like I did.” Luna tersenyum lagi. Senyum puas.
         “Semoga hari-hari kamu semakin baik lagi yah Bara. I should go now, makasih sekali lagi.” Luna mulai merapikan barang-barangnya dan berdiri. Sebelum berlalu Luna mengulurkan tangannya pada Bara. “Selamat tinggal Bara.” Bara  menatap uluran tangan Luna agak lama sebelum dia menyambut uluran tangan mantan kekasihnya itu.
         “Oh iya, satu lagi.” Kata Luna sebelum dia melangkah. “Nggak ada namanya mantan terindah di dunia ini Bara. Kalau memang terindah, kenapa harus jadi mantan?” Luna kembali melemparkan senyuman sebelum benar-benar berlalu dari hadapan Bara yang hanya bisa duduk diam mematung. Menyesal? Tidak ada gunanya lagi.
***