Selasa, 25 Februari 2014

Love Is a Choice #Part 1



I must have been crazy. Apa-apaan ini Raditya??? Kalau sampai Naomi dan Talita tahu bakalan mampus aku dibantai mereka. Yeah call me stupid saat mau-mau saja bertemu dengan Nadya. Bukan bertemu sih tapi Nadya yang datang ke kantorku setelah aku mengacuhkan puluhan SMS dan mengabaikan teleponnya. And I hate to say this, but I still miss and love her to the moon and back. Walaupun dia sudah sangat meremukkan hatiku saat memutuskan menikah dengan laki-laki lain tiga bulan setelah memutuskanku secara sepihak. Alasannya karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan jarang menghujani dia dengan SMS-SMS atau BBM yang nggak penting.
         Maksudku, apa penting setiap saat aku menanyakan kabarnya padahal baru semalam sebelumnya kami bertemu. Apa penting setiap saat harus bilang aku cinta kamu padahal sudah jelas-jelas aku bakalan menikahinya. Dan aku sibuk kerja itu demi siapa kalau bukan demi masa depan aku dan dia. But yeah, that’s not enough for her and he dumped me for that stupid reason. That’s why I can’t understand about woman’s thought. Nggak semua perempuan sih, karena Naomi dan Talita dua sahabatku sejak kecil bukan tipe seperti Nadya yang manja dan menyebalkan tapi anehnya membuatku jatuh cinta setengah mati. Dan sekalipun dia sudah menghancurkan hatiku, aku masih saja begitu mencintainya.
         “Sori Dit kalau aku tiba-tiba saja muncul disini. Aku nggak punya jalan lain. Aku nyaris frustasi karena kamu nggak pernah balas SMS aku.” Kata Nadya dengan nada manjanya saat kami tiba di coffee shop yang terletak di lobi gedung kantorku. Oh yah satu lagi, Nadya bukan cuma manja dan menyebalkan tapi dramaqueen juga. Nyaris frustasi katanya barusan, yang memilih buat kawin sama orang lain siapa?
         “To the point saja Nad. Kerjaanku banyak dan aku juga nggak mau sampai kenalanku melihat aku ngobrol berduaan dengan mantan pacarku yang sudah jadi istri orang.” Wow! Itu beneran aku? Ternyata aku masih bisa juga menahan diri untuk nggak melompati meja dan memeluk Nadya dengan penuh rindu.
         I miss you Dit.” Kata Nadya nyaris memekik. Oke mungkin dia memang benar soal dirinya yang nyaris frustasi. Dan aku juga menyadari kalau Nadya sekarang ini nampak rapuh. Call me bastard, tapi aku harus akui kalau aku senang melihatnya seperti ini. Duduk didepanku dengan penyesalan penuh dan mengakui kalau dia merindukanku juga.
         “Aku tahu aku nggak pantas bilang itu ke kamu. I was so selfish and so spoiled when I decided to broke up with you. Emosi sesaat yang akhirnya menyerang balik diriku.”
         “Nggak ada gunanya lagi Nadya. Kamu sudah menikah, punya suami.”
         But I’m not happy. He’s not better than you. Aku sudah seminggu pulang ke apartemenku lagi.”
         Hell no!! Baru tiga bulan dan Nadya sudah pisah dengan suaminya? Ini bukan pernikahan selebriti kan? Aku yakin 100% suami Nadya bukan dari kalangan selebriti. So why Nadya? Why??
         “Dia nggak pernah mau dengerin aku.” Seolah dapat membaca pikiranku, Nadya mengutarakan penyebab dia pisah dengan suaminya. Yah tentu saja perempuan manja seperti Nadya selalu ingin didengar. Nggak terhitung deh berapa kali dia merajuk sewaktu kami pacaran dulu cuma gara-gara aku nggak mau nurut sama kemauannya.
         “Tetap saja nggak menjadikan alasan untuk kamu seenaknya datang menemui aku.” Huh sok jual mahal padahal tadi saat Nadya muncul didepan pintu ruanganku, aku nyaris saja menangis terharu. Dan yah untuk kali ini hati berhasil mengalahkan logikaku. Aku melirik ke pintu masuk coffee shop dan mendapati Dera rekan kerjaku tengah berjalan kearahku.
         “Lo disini? Lupa yah ada meeting sama calon klien. I’ll give you five minutes. Gue tunggu di parkiran” Dera langsung nyerocos dan tanpa menunggu jawabanku dia langsung melengos pergi. Aku melirik Nadya yang ekspresinya kentara sekali nggak suka sama cara Dera barusan atau sama Dera-nya mungkin.
         “Dia siapa? Aku nggak suka cara dia ngomong ke kamu.” Tukas Nadya. See, dia bicara seolah-olah aku ini masih miliknya.
         “Sorry Nad, but I have to go.” Aku beranjak bersiap pergi. Kemunculan Dera barusan membuatku kesal sekaligus lega. Kesal karena dia menginterupsi waktuku dengan Nadya tapi sekaligus lega karena aku jadi punya alasan untuk meninggalkan Nadya.
         “Oke. Aku tahu itu cuma alasan kamu aja Dit, but I’ll be back. Aku akan terus kembali sampai kamu mau menerima maafku. Aku tahu jauh dilubuk hati, kamu masih mencintai aku. Cos’ I feel the same too.” Kata Nadya lagi sebelum beranjak pergi.
         Aku memandangi punggungnya yang perlahan menjauh sampai menghilang dari hadapanku. Dan desiran aneh merayapi dadaku. Dan seandainya saja saat ini aku dan Dera tidak harus menemui calon klien, aku mungkin sudah berlari mengejar Nadya dan menenggelamkannya kedalam pelukanku.
***
         Talita melambaikan tangannya saat aku memasuki Anomali Coffee. Ini memang tempat nongkrong favorit kami bertiga semenjak kami mulai sibuk dengan kerjaan masing-masing dan jadi penggila kopi. Aku langsung mengecup pipi Talita, hal yang sama juga baru mau aku lakukan ke Naomi tapi nggak jadi karena pekikan pelannya.
         “Sialan!! Mau lo apa siiiiiiih??” Naomi melotot ke layar Galaxy Note 3-nya membuatku berjengit kaget dan menoleh ke Talita meminta penjelasan.
         “Flappy bird dan PMS.” Jelas Talita singkat sambil memutar kedua bola matanya. Dan aku hanya bisa mengangguk maklum. Yah kalau ada game yang harus dihindari kaum wanita saat lagi PMS, flappy bird ada diurutan pertama.
         “Gimana kabar lo? Masih galau juga?” Naomi sepertinya sudah menyerah dengan si flappy karena dia sudah meletakkan note 3-nya. Aku belum langsung menjawab karena waiters yang datang meletakkan pesanan kami, black pearl espresso yang sudah dipesankan Talita untukku dan black forest latte untuknya dan Naomi plus klub sandwich dan kentang goreng.
         That’s why I called you. Nadya tadi ke kantor gue.” Ucapan gue barusan praktis membuat Naomi dan Talita menganga. “Katanya dia sudah pisah sama suaminya.” Tambahku lagi. Naomi bahkan sudah melotot.
         “Sudah berapa lama?” Tanya Talita lagi.
         “Seminggu katanya.”
         “Whuaaattttt????” aku dan Talita berjengit kaget mendengar pekikan Naomi. Bahkan pengunjung kafe yang lain juga ikutan menoleh. “Dia itu mau menyaingi Ayu Ting Ting?? Baru tiga bulan kan dia nikah?” kata Naomi lagi tapi dengan volume yang sudah diturunkan.
         “Alasannya apa?” Tanya Talita datar. Dua sahabatku ini pribadinya memang berbeda. Naomi orang yang ceria, blak-blakan, ramah, lebih mudah mengekspresikan perasaannya sementara Talita kebalikannya. Lebih tertutup dan terkesan jutek karena ekspresinya yang selalu datar.
         “Suaminya nggak mau dengerin dia katanya.”
         “Hah! Khas Nadya banget. Sok tuan putri, maunya didengerin terus apa maunya. Sori yah Dit kalau lo harus tersinggung, tapi mantan pacar lo yang sangat lo cintai itu so very childish. Sok manja. Sebenarnya gue nggak suka sama dia tapi karena gue sayang sama lo gue diem aja. Kenapa sih lo bisa cinta banget sama dia?” kata Naomi blak-blakan yang membuatku rada bangke juga.
         Dari kecil aku selalu dikelilingi dengan perempuan-perempuan yang mandiri. Mami aku yang sudah jadi single parent sejak aku umur 10 tahun, begitu pula dengan Naomi dan Talita yang jauh sekali dari kesan manja. Call me freak, tapi aku selalu mendambakan gadis yang manja. Secara nggak ada yang bisa gue manjain. Bahkan Talita yang yatim piatu sekalipun. Munculnya Nadya membuatku nggak bisa berpaling, karena akhirnya aku bisa memanjakan seorang perempuan.
         “Hey lupa yah? Diantara semua mantan-mantan gue, cuma Nadya yang bisa menerima persahabatan gue dengan lo berdua. Hitung deh berapa kali gue putus cinta, alasannya selalu sama, mantan-mantan gue cemburu dengan lo berdua.”
         Dan memang betul. Cuma Nadya yang nggak pernah keberatan dengan jalinan persahabatan antara aku, Naomi dan Talita. Dan Nadya satu-satunya yang nggak pernah menyuruh aku memilih antara dia atau Naomi dan Talita.
         “Belum keluar aja aslinya Raditya sayang.” Kata Naomi lagi. “Lo pacaran kan belum setahun. Kalau sudah setahun pasti dia bakalan maksa lo untuk memilih. Mantan-mantan lo yang nggak manja aja nggak tahan liat kedekatan lo sama gue dan Talita apalagi yang tipe manja kayak Nadya. Dan kenyataan kalau dia nggak pernah berusaha berbaur dengan gue dan Talita semakin menguatkan teori gue.”
         “Dia masih istri orang Dit, lo harus ingat itu. Kita sih akan selalu support lo, tapi lo harus kuat juga. Sekarang ini hati lo masih labil aja dan lo belum bisa mengenyahkan Nadya dari pikiran lo jadi ada baiknya lo jangan ketemu Nadya dulu.” Kata Talita.
         “Lagian juga jadi cowok kok cengeng banget. Move on dong maaaaaaaaan. Gue aja waktu putus sama Arjuna yang gue rasa sudah jadi belahan jiwa gue nggak segitu desperatenya. 1 setengah tahun lho gue pacaran sama dia sebelum dia malah dijodohkan.”
         Naomi kembali menggunakan senjata pamungkasnya. Yah aku memang terlalu cengeng jadi cowok. Saat harus berpisah dengan Arjuna aku tahu pasti bagaimana hancurnya Naomi, tapi dia nggak pernah menangis. Menurutnya airmatanya terlalu berharga untuk menangisi Arjuna.
         Iphone milikku yang diletakkan diatas meja bergetar. Aku melirik layarnya dan menemukan nama Nadya. Naomi yang melihat ekspresiku langsung meraih hp-ku dan me-reject panggilan Nadya. Tapi bukan Nadya namanya kalau berhenti disitu. Puluhan panggilan menyusul kemudian membuat Naomi menggeram kesal sebelum mematikan hp-ku.
         So how’s your day?” Tanya Talita mengalihkan pembicaraan.
         “Lumayanlah. Gue sama Dera berhasil dapat klien baru yang mau menggunakan jasa perusahaan kami untuk design rumah barunya. Pria muda yang mapan, sepertinya rumah itu kejutan untuk istrinya.” Setelah pertemuan dengan Nadya tadi, aku dan Dera rekan kerjaku yang juteknya juga sama kayak Talita pergi menemui calon klien kami yang kemudian berubah statusnya jadi klien setelah dia setuju untuk menggunakan jasa perusahaan tempatku mencari nafkah.
         “Dera? Rekan kerja lo yang cute dan charming itu? Is there something wrong with you? Cewek sekece itu dianggurin aja? Apalagi lo berdua kan sering kerja bareng.” Naomi memutar kedua bola matanya.
         “Ngomong apa sih lo?” aku menoyor dahi Naomi pelan yang dibalasnya dengan mengeplak tanganku. “She’s not my type at all.” Lanjutku lagi yang membuat Naomi nggak tahan untuk nggak mencibir.
         So what kind of girl can make you fall so deeply in love Raditya Mahya? Yang tipe-tipe manja nggak jelas kayak Nadya? Trust me, it won’t work. Lagian heran gue sama obsesi lo untuk manjain cewek itu? Kesannya lo jadi stupid gitu. Raditya Mahya, arsitektur mapan yang gantengnya 11-12 dengan Kim Woo Bin tapi jadi bego setelah ketemu cewek manja yang bernama Nadya.” Ya ampun sahabatku yang satu ini, cantik-cantik tapi mulutnya tajam juga. Heran si Tristan bisa betah pacaran sama Naomi. Meskipun aku agak tersanjung juga karena dia rela menyandingkan ketampananku dengan actor Korea tercintanya.
         You’re wrong. Gantengan gue kemana-mana kali’ dibanding Kim siapa itu.” Aku mencibir kearah Naomi lalu menoleh ke Talita. “Kok diem aja? Tolongin gue dong.” Kataku setengah memelas.
         Sorry darl, tapi untuk yang satu ini gue harus setuju dengan Naomi. And she’s right, why don’t you try to move on and start with this Dera?”
         What the hell with all people around me yang seakan-akan nggak berhenti mencoba membuatku melirik Dera. Bukan cuma pesona Nadya yang terlalu kuat yang membuatku sulit berpaling, tapi fakta kalau Dera nggak menyukai aku juga membuatku harus menyerah sebelum mencoba. Bukannya aku nggak pernah melirik Dera. Seperti kata Naomi tadi, Dera itu cute and charming. Nggak secantik Naomi atau Talita juga tapi entah kenapa memang ada sesuatu yang menarik darinya. Sayangnya dia selalu jutek ke aku. Artinya dia nggak suka kan sama aku? Dan itu membuatku sadar juga kalau Dera jadi perempuan ketiga yang kebal dengan pesonaku setelah Naomi dan Talita.
         Forget about Dera. She never likes me. Dia itu cewek terjutek yang pernah gue kenal. Dan kesannya tuh dia terpaksa banget setiap harus kerja bareng gue.” Jelasku yang memadamkan semangat diwajah Naomi tapi menimbulkan cahaya diwajah Talita. Crap, bahasa apa yang baru kupake barusan.
         “Lo nggak pernah berpikir kalau dia sebenarnya suka sama lo? Lo lupa gimana sikap gue ke Daffa dulu?” ucapan Talita barusan membuat ingatanku melayang ke kejadian beberapa bulan lalu sebelum aku didepak Nadya. Yah siapa yang nyangka kalau Talita yang sedingin ratu es setelah ditinggal mati mas Rendra mantan pacarnya karena kecelakaan akhirnya bisa luluh pada Daffa. Our handsome classmate when we were in High School yang sekarang tengah mengecap panggung ketenarannya di dunia entertainment. Bisa ternyata Daffa yang pecicilan meluluhkan Talita dan yang nggak pernah aku dan Naomi sangka, dibalik segala kejutekan yang dia tebarkan ke Daffa ternyata diam-diam juga dia sudah jatuh hati dengan Daffa.
         “Nggak mungkinlah. Begini yah, gue sama Dera itu interaksinya terlalu sering. Masa’ sih kalau emang dia suka sama gue dia nggak bisa berubah ramah sedikitpun. Jangankan ramah, dekat-dekat ama gue aja dia nggak betah.”
         “Nyangkal aja terus Dit, nanti juga mata lo bakal kebuka dengan sendirinya.” Kata Talita sambil mengangkat kedua bahunya.
         “Oke lupakan soal Nadya. Dan lupakan sejenak soal Raditya Mahya yang belum bisa move on. Gue punya berita bahagia sebenarnya.” Kata Naomi dan aku melihat rona bahagia yang muncul diwajahnya. “Tarrrrraaaaaaaa…..Tristan already purpose me. I’m getting married saudara-saudaraaaaaa.” Naomi mengacungkan jari manisnya yang kini sudah berhias cincin dengan batu berlian. Bahkan aku dan Talita pun ikut larut dalam kebahagiaan yang dia tularkan hingga mengacuhkan tatapan aneh pengunjung kafe lainnya akibat pekikan Naomi tadi. For God’s sake, kemana aja pikiranku sejak tadi sampai nggak menyadari kalau ada yang berkilau dijari manis Naomi.
         Congratulation my noisy Naomi. I’m so happy for you.” Bahkan Talita sudah berkaca-kaca saat mengucapkan kalimat barusan. And I do understand, Naomi getting married soon dan artinya aku dan Talita nggak bisa lagi memonopoli dirinya 100%. Shit, I even already miss her.
         “Berani juga yah Tristan ngambil resiko hidup dengan cewek paling berisik.” Kataku mencoba bercanda tapi malah terdengar miris. Ternyata sebesar ini rasa sayangku sama mereka berdua.
         “Jangan sedih gitu dong, gue kan mau merit bukannya pindah ke Uranus. And keep my words now that my married wouldn’t be obstacle for our friendship FOREVER!” Naomi menekan kata forever.
         “Gue percaya Nom.” Kataku lagi dengan senyum tulus. “Lo kapan nyusul?” kataku pada Talita.
         “Nanti yah kalau lo sudah bisa move on. Biar gue bisa merit dengan tenang.” Sahut Talita yang membuat Naomi ngakak.
         “Sialan lo!” umpatku tapi ikut ketawa juga.
         Dan yang mereka berdua lakukan selanjutnya berhasil membuatku melupakan Nadya sesaat. Saat mereka berdua mulai menggali kembali kenangan persahabatan kami yang sudah berjalan saat kami sama-sama masih pake popok. Tapi itu cuma sesaat, karena dua jam kemudian saat aku pulang dan menemukan Nadya tengah duduk melantai didepan pintu apartemenku dengan menelungkupkan kepalanya, I’ve get lost again. Aku melupakan segala usahaku yang berusaha keras mengusir bayangannya dari kepalaku karena yang kulakukan selanjutnya adalah melangkah mendekati Nadya yang belum sadar akan kehadiranku, berjongkok disampingnya dan menyentuh kepalanya lembut. Dan saat Nadya mengangkat kepalanya kemudian tersenyum lemah dan berbisik “Finally you’re home.” There’s nothing I can do but hug her deeply into my arms.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar