Mandy kembali mendesah untuk yang kesekian kalinya. 'Hmmm menyebalkan dan norak' batinnya. Kedua tangannya ditopangkan ke dagu lancipnya dan pandangan matanya tidak lepas dari pasangan kekasih yang tengah asyik bercengkerama di bangku taman depan kelasnya. Kemudian dia mendengus pelan dan melayangkan tatapan sinis pada Ardy mantannya, cowok yang tengah asyik dengan Amel pasangan barunya saat kedua mata mereka beradu. Dengan sombongnya Ardy merangkul Amel dan melirik Mandy dengan lirikan mengejek.
"Nggak usah diliatin, makan ati nanti." celetuk Siska teman sebangkunya tanpa melepaskan pandangannya dari majalah remaja yang dibacanya.
"Nggak sengaja. Lagian juga gue kok bisa bego banget yah masuk perangkap buaya daratnya si Ardy." kata Mandy seraya menyandarkan kepalanya di kusen jendela.
"Bukan salah lo. Ardy aja yang emang brengsek, sok kegantengan." cibir Siska. Pandangannya sudah beralih dari majalah kepada Ardy dan langsung berdecak sebal saat melihat ulah Ardy yang sok romantis pada Amel.
"Amel cantik sih, populer lagi. Nggak heran Ardy tega mutusin gue. Mana pesta dansa tinggal beberapa hari lagi."
"Haaaaiiiiiiii giiiiiiiiirls." Mandy dan Siska kompak menoleh pada Alia sahabat mereka yang beda kelas yang sudah berdiri didepan mereka dengan senyum sumringah. "Jadi kaaaaan kita hunting gaun buat pesta dansa nanti." katanya lagi. Siska melirik pada Mandy yang langsung melengos dan berlalu dari dua sahabatnya itu.
"Lho kenapa? Gue salah ngomong yah?" tanya Alia.
"Lo kan' tau si Mandy baru diputusin. Kayaknya dia nggak bakalan ikut pesta dansa deh." kata Siska.
"Yaaaaah......" seru Alia kecewa.
Sementara itu di kantin Mandy memutar-mutar botol pepsi dingin tanpa semangat. Semua anak gadis di kantin sibuk membicarakan soal pesta dansa sekolah mereka yang akan diadakan hari sabtu dalam rangka merayakan ulang tahun sekolah mereka.
"Kok nggak diminum sih? Kasian lho diputar-putar bisa pusing nanti botolnya." Mandy menoleh dan mendapati Putra teman sekelasnya waktu kelas X berdiri dibelakangnya masih mengenakan kostum basket sambil tersenyum.
Mandy tersenyum kikuk dan mengedarkan pandangannya kepenjuru kantin berharap Vero kakak kelasnya tidak melihat kejadian barusan.
"Kalo nggak mau diminum buat gue aja yah?" Putra langsung mengambil tempat disamping Mandy dan meraih botol pepsi dari tangan Mandy dan langsung meneguknya.
Mandy hanya bisa melongo kemudian mengerjapkan matanya berkali-kali. Adanya Putra disampingnya membuatnya happy tapi sekaligus bercampur rasa risih dan khawatir.
"Kenapa? Gue bau keringat yah?" tanya Putra saat Mandy masih memandanginya.
"Ah,,nggak kok." jawab Mandy singkat.
"Jadi pesta dansa nanti mau pergi bareng Ardy?" tanya Putra lagi yang dijawab Mandy dengan gelengan kepala. Putra baru mau bertanya kenapa saat pandangan matanya menangkap bayangan Ardy yang tengah bergandengan tangan dengan Amel memasuki kantin.
"Ohhhh, emang putusnya kapan? Perasaan minggu lalu gue masih liat lo jalan sama Ardy."
"Dua hari lalu."
"Dua hari lalu??? Trus dalam jarak dua hari dia udah punya gandengan lagi??" pekik Putra membuat Mandy risih karena seisi kantin mulai memperhatikan mereka berdua.
"Nggak perlu kenceng ngomongnya. Kita jadi diliatin seisi kantin." kata Mandy pelan.
"Ups sori deh. Lo baik-baik aja?" tanya Putra perhatian.
"Nggak usah dibahas deh."
Putra manggut-manggut mengerti. "Rasanya udah lama sekali yah kita berdua nggak ngobrol kayak gini." kata Putra mencoba mengalihkan pembicaraan.
Mandy mengangguk singkat. Memang semenjak kejadian nggak mengenakkan saat di semester 2 kelas X, sebisa mungkin Mandy berusaha menghindari Putra.
"Kenapa?" tanya Putra seraya memandangi Mandy dengan serius.
"A..apanya yang kenapa?" Mandy balik bertanya dengan gugup.
"Kenapa lo menghindari gue? Gue juga tau seharusnya kita sekelas tahun ini tapi lo minta pindah kelas kan?"
Mandy menunduk dan memainkan lipitan roknya. Dari ekor matanya dia bisa merasakan kalo pandangan Putra masih tertuju padanya. Mandy mengangkat wajahnya perlahan dan yang pertama dilihatnya adalah wajah Vero kakak kelasnya yang tengah memandanginya dengan tajam.
"Ng Put sori, gue ke kelas duluan." katanya lalu beranjak dengan cepat meninggalkan Putra yang hanya bisa mendesah.
***
"Aaaaaaaarrrrrggggghhhhhhh." Mandy mengerang sambil membanting tubuhnya ke kasur empuk miliknya. Pikirannya kembali kacau gara-gara Putra. Pulang sekolah tadi dia tidak dapat menghindar saat Putra tiba-tiba menariknya dan memaksa untuk mengantarnya pulang. Dan Mandy juga bisa merasakan tatapan tajam yang lagi-lagi dilemparkan oleh Vero. Tapi kali ini bukan hanya Vero, bahkan Ardy juga ikut memandanginya dengan tajam.
"Gue mau dengar alasan lo kenapa lo terus-terusan menghindari gue." desak Putra saat Mandy sudah berada didalam mobilnya.
"Untuk apa?" tanya Mandy sedikit frustasi.
"Biar hati gue tenang dan gue bisa tau kesalahan gue."
"Tapi lo nggak salah apa-apa Put. Dan gue nggak bisa jelasin sekarang karena gue juga nggak tahu gimana cara ngejelasinnya."
"Oke,,,gue nggak akan paksa lo. Tapi gue nggak akan nyerah soal perasaan gue."
"Perasaan apa?"
"Nggak usah pura-pura amnesia."
Mandy kembali mendesah mengingat kata-kata Putra tadi. Tapi mau tidak mau mulutnya menyunggingkan seulas senyum juga. Sebelum jadian dengan Ardy, Mandy sempat dekat dengan Putra. Tapi dekat dengan Putra bukanlah hal yang mudah karena Putra adalah salah satu siswa populer di sekolah mereka dan juga anak pengusaha sukses. Dan Mandy merasa nyaman dekat dengan Putra bukan karena dia anak pengusaha kaya tapi karena kepribadian Putra yang menyenangkan dan nggak suka tebar pesona. Mandy mulai merasa tidak nyaman dekat dengan Putra setelah dia mendapat berbagai macam teror dari Vero kakak kelasnya yang terkenal karena suka membully siapapun yang dia nggak suka. Vero tergila-gila pada Putra tapi tidak pernah digubris oleh Putra. Alhasil Mandy yang menjadi bulan-bulanan Vero. Mulai dari mengurung Mandy didalam toilet, menggunting kemeja seragamnya saat dia sedang olahraga, melempari Mandy dengan tepung dan berbagai macam perlakuan tidak mengenakkan lainnya.
Akhirnya Mandy menyerah dan mulai menghindari Putra. Awalnya berat bagi Mandy tapi pada akhirnya Mandy mulai mengikhlaskan perasaannya pada Putra. Tapi dengan adanya kejadian tadi, Mandy mulai ragu lagi apalagi setelah Putra tau kalau dia sudah putus dengan Ardy.
"Putus cinta efeknya parah banget buat lo yah? Muka lo kusut tau!" Mandy melonjak kaget dan mendapati Siska dan Alia sudah berada didalam kamarnya.
"Ngapain lo berdua disini?" tanya Mandy bingung.
"Lo pedekate lagi sama Putra?" Alia balik bertanya. Mendengar pertanyaan Alia membuat kepala Mandy pusing lagi.
"Tough day." gumam Mandy.
"Nggak apa-apa lagi kalo lo pedekate lagi sama Putra. Dia benar-benar serius suka sama lo." kata Siska.
"Lo lupa sama Vero? Nggak tahu apalagi yang bakalan dia perbuat ke gue besok. Dia lihat gue diantar pulang sama Putra tadi. Dan kalau tatapan bisa merobek-robek gue pasti udah jadi serpihan kertas tadi."
"Ihh peduli amat dengan si mak lampir satu itu. Lagian juga Putra nggak suka sama dia. Lo pernah jujur ke Putra nggak kalau selama ini lo menghindari dia gara-gara si Vero?" kali ini Alia yang menyahut. Mandy menggeleng pelan mendengar pertanyaan Alia.
"Nah salah lo juga nggak pernah ngomong ke Putra. Kan kali' aja dia bisa ngelindungin lo dari Vero atau siapapun di dunia ini yang mencoba nyakitin lo." kata Alia lagi.
"Hmm cinta itu complicated banget yah? Dan ternyata nggak seenak itu juga kalau disuka sama cowok kayak Putra. Tapi kalau kalian saling suka harus dijalanin dong. Lo jangan pernah menyerah hanya karena seorang Vero." kata Siska.
Mandy diam merenungi perkataan dua sahabatnya. Disatu sisi dia masih menyimpan perasaannya untuk Putra, tapi disisi lain dia ingin menjalani tahun kedua bangku SMA dengan damai tanpa gencetan dari siapapun.
"Ihh peduli amat dengan si mak lampir satu itu. Lagian juga Putra nggak suka sama dia. Lo pernah jujur ke Putra nggak kalau selama ini lo menghindari dia gara-gara si Vero?" kali ini Alia yang menyahut. Mandy menggeleng pelan mendengar pertanyaan Alia.
"Nah salah lo juga nggak pernah ngomong ke Putra. Kan kali' aja dia bisa ngelindungin lo dari Vero atau siapapun di dunia ini yang mencoba nyakitin lo." kata Alia lagi.
"Hmm cinta itu complicated banget yah? Dan ternyata nggak seenak itu juga kalau disuka sama cowok kayak Putra. Tapi kalau kalian saling suka harus dijalanin dong. Lo jangan pernah menyerah hanya karena seorang Vero." kata Siska.
Mandy diam merenungi perkataan dua sahabatnya. Disatu sisi dia masih menyimpan perasaannya untuk Putra, tapi disisi lain dia ingin menjalani tahun kedua bangku SMA dengan damai tanpa gencetan dari siapapun.
"Berjuang Mandy sayang. We'll always support you." kata Alia lagi.
***
Mandy menunduk dalam-dalam dan memainkan lipitan roknya. Perasaannya nggak karuan pagi ini saat melihat Putra sudah menunggunya didepan rumah. Senang sampai dia harus menahan diri untuk nggak loncat-loncat kegirangan sekaligus khawatir jangan-jangan nanti dia bakalan diteror Vero lagi.
"Lo kenapa sih? Kayaknya gak seneng gitu gue sama-sama gue." tegur Putra tiba-tiba.
"Seneng kok!" seru Mandy yang membuat sudut-sudut bibir Putra tertarik keatas membentuk senyuman. Mandy makin salah tingkah.
"Lo masih utang penjelasan sama gue." kata Putra lagi.
"Penjelasan apa?"
"Kenapa lo menghindari gue. Asal lo tahu, perasaan gue nggak pernah berubah sekalipun lo pacaran sama seribu Ardy."
Speechless. Itulah yang mendera Mandy saat mendengar perkataan Putra barusan.
"Kenapa diam?" tanya Putra lagi.
"Nggak tahu mau jawab apa."
"Nggak apa-apa juga kalau nggak mau kasih penjelasan. Let me find it by myself."
Lalu suasana sepi. Tidak ada lagi obrolan diantara mereka, yang terdengar hanya suara Adam Levine yang melantunkan Daylight.
***
Senyuman Mandy belum menghilang setelah dia turun dari mobil Putra dan melangkah menuju kelas. Sengaja dia menolak tawaran Putra untuk mengantarnya ke kelas. Yah kekhawatiran kalau-kalau Vero bisa melihatnya selalu ada. Mandy tersentak kaget saat seseorang menarik tangannya dengan keras dan mandy lebih kaget lagi saat menyadari kalau orang itu Ardy.
"Apa-apaan sih lo?" Mandy menyentak tangannya hingga lepas dari genggaman Ardy.
"Baru berapa hari kita putus lo udah jalan sama Putra?" tanya Ardy nyolot.
Mandy mendengus dan tersenyum sinis mendengar pertanyaan Putra. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala dan memilih berlalu dari hadapan Ardy. Tapi Ardy tetap mengejarnya.
"Mau lo apa sih??" Mandy mulai jengah.
"Ini alasan gue mutusin lo Mandy. Nggak peduli lo pacaran sama gue atau seribu Ardy, di otak dan hati lo tetap cuma satu nama aja. Putra!"
Mandy tercengang mendengar perkataan Ardy barusan.
"Sebenarnya gue nggak serius dengan Amel, tapi mungkin gue harus belajar untuk mulai serius, karena cewek yang gue sayang malah cinta sama orang lain." Ardy lalu berlalu, tapi baru dua langkah dia menoleh lagi ke Mandy.
"Kalo emang suka, lo berjuang dong.Kalo kalian saling suka, peduli amat sama orang lain." setelah menyelesaikan perkataannya, Ardy kembali melanjutkan langkahnya.
Kejadian pagi ini berdampak buruk pada konsentrasi Mandy dalam menyerap pelajaran. Berapa kali dia harus ditegur guru karena melamun. Dan saat jam istirahat pun dia harus menghadapi kemurkaan Vero. Mandy disiram air seember saat berada di toilet. Keluar dari toilet, Vero and the gank langsung menyeretnya ke halaman belakang sekolah.
"Sudah gue bilang, jangan coba-coba mendekati Putra lagi!!" teriak Vero beringas. Dia mengedikkan kepalanya pada gank-nya yang sudah memegang telur busuk. Mandy memejamkan mata saat mereka mulai melemparkan telur-telur itu. Tapi dia tidak merasakan apapun membuatnya membuka matanya perlahan. Mandy membelalak kaget saat melihat Putra sudah berdiri didepannya dan berlumuran lemparan telur. Vero juga tidak kalah terkejut.
"Masih jaman yah main bully sekarang ini?" kata Putra tenang sambil menyeka kuning telur yang menempel diseragamnya dan meninggalkan bau amis yang menyengat.
"That's why I never like you. Mean girl is not my type at all."
Putra lalu menyeret Mandy pergi meninggalkan Vero and the gank yang masih diam mematung.
Setelah berlalu dari Vero, Mandy mulai terisak hebat. Syok, marah dan sedih bercampur jadi satu. Dia bahkan tidak mempedulikan seragamnya yang sudah basah kuyup.
"So it's all because Vero." gumam Putra. "kenapa lo nggak pernah bilang ke gue?"
"Buat apa Putra?? Gue ngomong ke siapapun gak bakalan menyurutkan niat Vero untuk gangguin gue. Gue cuma mau masa SMA gue berjalan dengan damai tanpa gangguan dari siapapun." Mandy mengerang frustasi.
"Karena gue bisa melindungi lo dari siapapun yang coba nyakitin lo. When I said I love you, it's true. I do love you. So kecuali lo nggak cinta gue, gue akan berhenti berjuang dengan perasaan gue sendiri." Putra menatap Mandy langsung ke kedua bola mata Mandy, menegaskan kalau dia selalu jujur dengan apa yang diucapkannya.
"Gue tunggu lo di lapangan basket pas malam pesta dansa. Kalau lo nggak datang, itu tandanya gue harus berhenti berjuang untuk ngedapetin hati lo."
***
Mandy mondar-mandir di kamarnya. Malam ini pesta dansa sekolah mereka dan pastinya Putra sudah menunggunya di lapangan basket. Dia masih bimbang, bingung harus melakukan apa. Kalau dia lebih menuruti kata hatinya, entah apalagi kemurkaan Vero yang harus dihadapinya. Dia sudah terlalu takut untuk dibully lagi.
"Lo ngapain mondar-mandir gak jelas?? Putra pasti sudah nungguin lo!"
Alia muncul tiba-tiba membuat Mandy tersentak kaget.
"Gue,,,gue nggak akan pergi Al." kata Mandy gugup. Alia mendengus sebal.
"Putra emang bego. Ngapain sih harus berjuang untuk ngedapetin cewek yang lebih mentingin diri sendiri. Lo bego atau apa sih Mandy? Cuma karena Vero aja sampai lo harus mengorbankan perasaan lo sendiri? Lagian juga sebentar lagi dia lulus. Lo nggak mikirin perasaan Putra?? Satu tahun dia rela nungguin lo padahal dia bisa dapetin cewek yang 10 kali lebih oke dari lo." Alia menarik nafas perlahan. "Terserah lo deh. Yang ngerasain sakit juga lo, bukan gue." Alia lalu berderap pergi meninggalkan Mandy yang langsung terduduk lemas di ranjangnya.
Otaknya memutar kembali seluruh ucapan sahabat-sahabatnya, Putra bahkan Ardy. Dan memang benar, meskipun mulai pacaran dengan Ardy tapi Mandy tidak pernah bisa mengenyahkan Putra dari pikirannya. Dan soal Putra yang akan melindunginya, seharusnya dia tidak perlu meragukan soal itu. Yah, sepertinya dia mulai yakin dengan apa yang akan dipilihnya.
Sementara itu, Putra mulai ragu. Entah sudah berapa lama dia berdiri di lapangan basket menunggu Mandy yang belum tampak tanda-tanda kalau dia akan datang. Ini kesempatan terakhir yang dia ingin berikan pada Mandy, dan kalau gadis pujaannya itu tidak juga datang dia sudah memutuskan untuk melupakan Mandy. Putra menghembuskan nafas keras. Marah dan kecewa, itu yang dia rasakan saat ini.
"I'll give you 5 minutes Mandy." gumamnya pelan. Dan Mandy belum nampak juga. Putra sudah bersiap untuk melangkah pergi saat mendengar langkah tergesa.
"Sori gue telat." Langkah Putra terhenti mendengar suara itu. Suara yang selalu ingin didengarnya. Putra berbalik perlahan dan mendapati Mandy yang terlihat manis dengan vintage dress warna pastel. Rambutnya yang lurus dibiarkan tergerai dengan bando manis yang menghias kepalanya. Dia berdiri sambil mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan tapi tetap tersenyum. Senyum lebar langsung menghiasi wajah Putra. Tanpa pikir panjang Putra langsung menghampiri Mandy dan menggenggam tangannya.
"Sorry coz you have to be waiting for one year." ucap Mandy tulus.
"I will waiting for a thousand years if you ask me to."
Mandy tersenyum lebar. Belum pernah dia merasa bahagia, sebahagia malam ini.
"Thank you that you never give up to me. I love you Put, always."
Putra mengangguk, "I know." bisiknya kemudian. "So shall we go now?" Mandy mengangguk menyetujui.
Putra menggenggam tangannya erat memasuki auditorrium sekolah mereka dimana pesta dansa tengah berlangsung. Mandy bisa merasakan tatapan penuh senyum dari Siska dan Alia, perasaan ikhlas dari Ardy dan tatapan penuh kebencian dari Vero. Tapi dia tidak peduli lagi. Putra ada disampingnya, bersedia melindunginya tanpa diminta. Dan dia pun kali bersedia berjuang menghadapi Vero demi cintanya pada Putra.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar